Bali Tribune/EVAKUASI – Tim Basarnas melakukan evakuasi terhadap korban banjir di Kawasan kuta, Selasa (24/2/2026).
balitribune.co.id I Mangupura - Hujan deras yang mengguyur wilayah Badung dan Denpasar pada Selasa (25/2/2026) menyisakan duka bagi pelaku industri pariwisata. Kawasan primadona seperti Kuta, Legian dan Seminyak berubah menjadi lautan air, memicu kerugian material masif yang ditaksir menyentuh angka miliaran rupiah. Kondisi ini bukan sekadar musibah alam biasa, melainkan ancaman serius bagi reputasi Bali di mata internasional.
I Nyoman Graha Wicaksana, salah seorang pengusaha di Kuta, menyatakan bahwa banjir yang terjadi memicu kerugian besar dan mengancam citra Bali di mata dunia. "Selama ini, titik banjir di kawasan Kuta cenderung terfokus di area Jalan Dewi Sri. Namun, hujan ekstrem belakangan ini genangan air meluas hingga ke kawasan Kartika Plaza, Wana Segara, hingga Samudra," ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Menurut Ketua Komisi IV DPRD Badung ini sektor perhotelan menjadi pihak yang paling terpukul. Pasalnya, banjir yang masuk hingga ke area kamar memaksa manajemen hotel melakukan evakuasi tamu secara mendadak, merusak fasilitas fisik bangunan, dan membatalkan pesanan yang sudah ada. "Teman-teman pelaku mengakui ada kerusakan fasilitas akibat air yang masuk ke area lobi dan kamar merusak furnitur, alat elektronik, dan interior hotel. Banyak tamu yang memilih cancel," katanya.
Dampak banjir juga dirasakan oleh ekosistem pendukung seperti warung makan, toko kelontong, tour desk, hingga jasa penyewaan motor yang kehilangan pendapatan karena akses jalan yang terputus. "Estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah. Pengusaha yang seharusnya menyetorkan pajak, kini justru harus mengalokasikan dana tersebut untuk perbaikan darurat," tambahnya.
Graha Wicaksana menekankan bahwa pariwisata adalah bisnis berbasis persepsi dan citra. Jika wisatawan menganggap Kuta sebagai kawasan yang tidak nyaman dan rawan bencana, mereka akan berpikir dua kali untuk berkunjung. Hal ini diprediksi akan berdampak langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Badung. "Perlu diingat bahwa sekitar 80 persen PAD Kabupaten Badung bersumber dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Jika tingkat kunjungan di Kuta, Legian, dan Seminyak menurun drastis akibat banjir yang berulang, maka kapasitas fiskal pemerintah daerah untuk membiayai program pembangunan juga akan ikut tergerus," terangnya.
Graha Wicaksana berharap solusi holistik dengan duduk bersama para pakar guna mendesain ulang sistem drainase secara total dan melakukan normalisasi saluran air secara rutin sebelum musim penghujan tiba. "Jangan sampai investor menganggap Kuta tidak lagi bonafide untuk investasi. Jika investasi lari, perputaran ekonomi akan mati, dan Bali yang akan rugi secara keseluruhan," pungkasnya.


















































