Bali Tribune / BANJIR - Hujan deras di hulu pada Minggu siang menyebabkan sejumlah wilayah di Jembrana sempat tergenang banjir. Setelah banjir surut, meterial lumpur menggenangi pekarangan rumah warga.
balitribune.co.id I Negara - Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu sejak siang hingga sore hari pada Minggu (5/4/2026) memicu bencana banjir dan longsor di sejumlah titik di Kabupaten Jembrana, Bali. Peningkatan debit air sungai dan saluran drainase menyebabkan puluhan rumah warga tergenang, akses jalan terganggu, hingga infrastruktur mengalami kerusakan.
Seperti yang melanda wilayah Kecamatan Mendoyo. Kapolsek Mendoyo, Kompol I Wayan Sartika, mengungkapkan bahwa banjir melanda beberapa desa di Kecamatan Mendoyo. Di Desa Mendoyo Dauh Tukad, air meluap dari drainase dan menggenangi permukiman warga serta jalan desa di wilayah Banjar Tengah. Kondisi serupa terjadi di Desa Mendoyo Dangin Tukad, di mana luapan Sungai Mendoyo merendam pekarangan sejumlah warga.
Di Desa Pergung, peningkatan debit air Sungai Pergung menyebabkan banjir di wilayah Banjar Petapan Kelod. Sedikitnya enam kepala keluarga (KK) terdampak. Di Desa Delodberawah yang berada di wilayah selatan Desa Pergung dan Tegalcangkring juga terdampak banjir. Kali ini banjir melanda Banjar Dauh Marga hingga berdampak lebih terhadap permukiman warga. Dari laporan yang diterma pihaknya ada sekitar 20 KK yang rumahnya sempat tergenang.
Wilayah langganan banjir di Kelurahan Tegal Cangkring juga kembali terendam. Luapan air dari bendungan menggenangi Lingkungan Baler Bale Agung dan Dlod Bale Agung. Air bahkan meluber hingga ke jalan utama Denpasar-Gilimanuk dari simpang Klampuak menuju Pasar Tegalcangkring. Tingginya debit air juga sempat mengakibatkan arus lalu lintas tersendat dari kedua arah. Belasan rumah warga juga dilaporkan terdampak di kawasan tersebut.
Di Desa Yehembang, luapan air dari drainase juga sempat menggenangi jalan utama Denpasar–Gilimanuk. Luapan air berasal dari saluran drainase yang kembali meningkat drastis di sebelah barat Puskesmas II Mendoyo. Meski sempat menghambat arus lalu lintas, air kini telah surut dan kendaraan sudah bisa melintas normal. Di Desa Yehembang ini tercatat tujuh KK terdampak, masing-masing enam KK di Banjar Bale dan satu KK di Banjar Pasar.
Desa Yehsumbul, dampak hujan tidak hanya berupa genangan air. Senderan atau pondasi tembok bagian barat Wantilan Desa Adat Yehsumbul dilaporkan jebol sepanjang sekitar 6 meter dengan tinggi 2,5 meter. Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di Desa Pohsanten, tepatnya di Banjar Dangin Pangkung Jangu. Material longsoran berupa lumpur sempat menutup akses jalan antarbanjar ini hingga tidak dapat dilalui kendaraan.
Ia memastikan hingga Minggu malam kondisi air sudah surut. "Memang sejak Minggu siang terjadi hujan di wilayah Kecamatan Mendoyo cukup deras dan di wilayah hulu terjadi hujan deras sehingga debit air meningkat drastis. Kami masih terus melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak dan kerugian yang dialami warga. Air hanya menggenang beberapa jam saja dan perlahan surut. Situasi sudah kondusif dan normal kembali,” tandas Sartika.
Begitupula banjir juga melanda wilayah Kecamatan Jembrana, Kapolsek Kota Negara, IPDA I Ngurah Agus Dwi Widiatmika Putra, menyampaikan bahwa banjir juga terjadi di beberapa desa akibat meluapnya sungai setempat. Di Kelurahan Sangkaragung, peningkatan debit air Sungai Samblong mengakibatkan genangan di pekarangan warga dengan ketinggian air mencapai 15–20 cm. Sebanyak 10 KK yang pekarangan rumahnya sempat tergenang luapan air.
Di Desa Yehkuning, kondisi serupa terjadi akibat meluapnya Sungai Yeh Kuning. Banjir dengan ketinggian air sekitar 20 cm merendam sejumlah titik dan berdampak pada 22 KK. Sementara di Desa Air Kuning, luapan sungai di Banjar Sabo menyebabkan enam KK terdampak, meskipun air dilaporkan mulai surut pada sore hari. “Hingga pukul 19.30 Wita tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerugian material yang signifikan dan masih didata,” tandasnya.


















































