Petani Kopi Perempuan di Catur Diedukasi Perdagangan Karbon

1 hour ago 2

Bali Tribune / PETANI KOPI - edukasi perdagangan karbon kebun kopi bagi sejumlah petani kopi perempuan di Desa Catur Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli.

balitribune.co.id I Bangli -  Sejumlah petani kopi perempuan di Desa Catur Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli diberikan edukasi dasar mengenai perdagangan karbon kebun kopi beberapa waktu lalu. Edukasi tersebut memperkenalkan kepada petani bahwa pohon, tanaman penaung, vegetasi, dan sistem agroforestri di dalam kebun bukan hanya memiliki nilai bagi produksi kopi dan ekosistem, tetapi juga memiliki peran dalam menyerap dan menyimpan karbon. 

Nilai Ekonomi Karbon (NEK) selama ini sering dipahami sebagai isu lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari petani. Namun bagi perempuan petani kopi di Desa Catur, karbon mulai diperkenalkan sebagai bagian penting dari nilai yang tersimpan di dalam kebun kopi mereka oleh pelatihan pemberdayaan yang diadakan Coop Coffee Foundation. Kegiatan edukasi Coffee Carbon, The Hidden Value adalah menempatkan petani bukan hanya sebagai penerima edukasi, tetapi sebagai aktor utama dalam ekonomi karbon dari kebun kopi. 

Founder Heal Bumi, Gilar Prakoso mengatakan, petani kopi perempuan di Catur ini merupakan pahlawan karbon. Pasalnya, kebun kopi yang dirawat oleh kaum ibu-ibu ini dapat menyerap karbon yang berdampak positif bagi lingkungan dan menghasilkan nilai tambah dari perdagangan karbon kebun kopi. 

"Heal Bumi diundang oleh Coop Coffee Foundation untuk mengedukasi masyarakat petani kopi terkait perdagangan karbon. Kami bekerjasama dengan empat entitas lain terutama Kementerian Koperasi, Coop Coffee Foundation, Koperasi di bawah naungan Kementerian Pertanian dan Heal Bumi, jadi ini kolaborasi multi pihak," jelasnya. 

Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo mengatakan, para peserta diperkenalkan pada pendekatan sederhana untuk memahami dan menghitung karbon secara manual. Dengan demikian, petani tidak hanya mengetahui bahwa kebunnya memiliki potensi menyerap karbon, tetapi juga mulai memahami bagaimana potensi tersebut dapat diukur dan dicatat berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

"Kami sebagai mitra atau pendamping perdagangan karbon melaksanakan kegiatan pendampingan hari ini, 21 Agustus 2026 bagi persiapan pelaku usaha perdagangan karbon. Kami menyiapkan pelatih atau tutor yang mumpuni di bidang pemahaman NEK," katanya. 

Menurutnya, petani perempuan memiliki peran besar dalam aktivitas pertanian, mulai dari pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun, pengolahan hasil, hingga pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan komunitas. Karena itu, literasi karbon tidak seharusnya hanya diberikan kepada pengelola program atau lembaga pendamping, tetapi juga harus sampai kepada perempuan yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan ekosistem pertanian.

Ditambahkan Sascha, edukasi karbon harus dimulai dari tingkat paling dasar agar petani tidak hanya menjadi objek dalam perdagangan karbon, tetapi dapat memahami prosesnya dan memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai karbon di masa depan. "Kami ingin perempuan petani bukan hanya menjadi penjaga kebun, tetapi juga menjadi penjaga nilai. Ketika mereka mampu memahami data karbon dari kebunnya sendiri, mereka memiliki dasar yang lebih kuat untuk berbicara tentang keberlanjutan, nilai lingkungan, dan peluang ekonomi dari karbon," ujar Sascha. 

Menurut Ketua Tim Penggerak PKK Desa Catur, Ana Setyowati, perdagangan karbon kebun kopi ini akan membawa keuntungan bagi para petani setempat. Pasalnya, dari perdagangan karbon kebun kopi ini tidak hanya merawat kebun kopi secara organik juga mendapatkan imbalan ekonomi dari karbon.

Ia mengatakan, usai mendapatkan sosialisasi atau edukasi mengenai perdagangan karbon kebun kopi, sebagai petani kopi di desa setempat sangat tertarik dalam perdagangan karbon tersebut. "Dengan adanya perdagangan karbon, ibu-ibu petani kopi di Catur semakin bersemangat melakukan penghijauan dan merawat tanaman di kebunnya. Jadi perdagangan karbon yang saya simpulkan adalah bagaimana kita merawat, kita mendapatkan imbalan," jelasnya.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan