Kolaborasi Wisata Sastra: Mengenalkan Sastra Grafis pada Siswa SMAN 8 Jakarta

1 hour ago 1

SHNet, Jakarta-Langkah sejumlah sastrawan untuk lebih mengenalkan dunia susastra kepada para remaja, khususnya pelajar SMA sangatlah penting. Sebab dengan mengenal sastra melalu bacaan novel, cerpen, dan karya sastra lainnya, pelajar akan lebih mengetahui beragam peristiwa lewat berbagai karya sastrawan. Manfaat utama sastra bagi pelajar adalah untuk mempertajam empati, meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Pelajar akan mendapatan kekayaan berupa kosa kata dan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan  menulis.

Acara Wisata Sastra bertema  “Sastra Grafis Jalan Mengenalkan Susastra Kepalada Remaja” yang digelar di aula Ave Grande, SMAN 8 Jakarta, Rabu, 16 Juli 2026 merupakan upaya untuk lebih mendekatkan pelajar dengan dunia sastra yang amat kaya. Kegiatan yang sangat menarik ini merupakan program kerja sama Akademi Sebermula dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (Perpustakaan Jakarta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta).

Dua sasatrawan tampil di hadapan sekitar 80-an peserta yang semuanya pelajar kelas XI SMAN 8 Jakarta, guru, mahasiswa magang dan tamu undangan. kedua sastrawan yang sudah berkarya piluhan tahun adalah Iksaka Banu, sastrawan fiksi sejarah yang meraih dua kali Kusala Sastra Khatulistiwa untuk (1) kumcer “Semua untuk Hindia” (2014) dan (2) kumcer “Teh dan Pengkhianat” (2019).

Kemudian Kurnia Effendi, sastrawan yang mendapat anugerah pustaka terbaik bidang puisi tahun 2019 dari Perpustakaan Nasional untuk buku kumpulan puisi “Mencari Raden Saleh” dan penghargaan lebih 40 tahun berkarya sastra dari Kemendikbudristek tahun 2024.

Editor yang sudah berpengalaman, Endah Sulwesi bertindak sebagai moderator. Nama Endah Sulwesi juga sudah sangat dikenal dalam dunia sastra. Karya yang snagat laris dari Leila S. Khudori, “Laut Bercerita” tampil apik dan enak dibaca karena sentuhan tangan editor Endah Sulwesi.

Pembicara , Kurnia Effendi saat memberikan materi, di sebelahnya duduk, Iksaka Banu dan moderator, Endah Sulwesi

Jembatan ke Buku Sastra Asli yang Tebal

Kurnia Effendi memaparkan materi dengan judul “Sastra Grafis Kolaborasi Wahana  Teks Sastra Dengan Ilustrasi” menjelaskan tujuan dari sosialisasi Sastra Grafis untuk menjembatani para pembaca masa kini agar tertarik dengan buku-buku sastra yang umumnya tebal, serius, dan berat.

Adapun misi-tujuan dari sastra grafis menurut Kurnia Effendi  adalah  membuat sebuah karya sastra menjadi lebih estetik dan memikat sejak awal melalui visual. Lalu, mengantarkan para pembaca masa kini menuju teks sastra yang lebih luas dan “berat” dan kemudian memberi ruang kreatif bagi ilustrator dengan hak dan kewajiban yang setara sebagai pencipta.

“Hampir setiap pembaca memilih buku dari sampulnya. Dampak teknologi digital, pembaca gemar membaca gambar bercerita (bukan teks padat) dengan durasi singkat. Rasa penasaran atas karya yang bagus, pembaca sejati akan mencari karya lain sastrawan itu dan karya sastrawan lain,”papar Kurnia Effendi.

Pada kesempatan ini, Kurnia Effendi juga menyebutkan penerbit Sebermula yang dia ikut dirikan bersama Wien Muldian, Kanti W Janis, Endah Sulwesi dan Debra H Yatim. Katanya, Sebermula sebagai penerbit didirikan untuk berfokus pada Sastra Grafis. Tentu Sebermula bukan satu-satunya.

“Komitmen Sebermula adalah memilih cerita baik untuk dibuat sebagai Sastra Grafis atau memilih pengarang baik yang karya fiksinya dibuat Sastra Grafis. Terbaik adalah memenuhi standar keduanya,” katanya.

Sebermula memproses sebuah karya dimulai dari pembacaan, pemilihan, diskusi yang melibatkan penulis teks dan calon ilustrator, membuat draf contoh sampai persetujuan, pembuatan gambar dengan aistensi, pemeriksaan editor dan penyelaras akhir, naik cetak dan terbit.

Suasana acara Wisata Sastra di SMAN 8 Jakarta, nampak, Iksaka Banu tengah memberikan materi

Proses Alih Wahana; Dari teks ke Visual

Sementara itu sastrawan Iksaka Banu membawakan materi berjudul “Alih Wahana Naskah Sastra ke Grafis”.   Dia menjelaskan proses pengalihan wahana dari cerpen (teks) menuju komik dengan mengubah lebih dulu menjadi skrip dan bekerja sama dengan ilustrator. Karena itu dalam materinya Iksana Banu lebih banyak memberikan informasi judul dan cover novel dan sejumlah karya yang dialih wahanakan ke medium film.

Dengan gaya yang tenang dan penjelasan yang lugas, Iksana Banu ingin para pelajar memahami apa yang dimaksud sastra grafis. Ia menjelaskan salah satu karyanya, “Film Noir”  yang pertama kali terbit sebagai cerpen di Koran Tempo pada 2005. Sambutannya begitu baik, hingga ia tergerak mengajak ilustrator Pipin Tobing untuk mengalihwahanakannya menjadi komik. Pipin menyambut ide itu dengan antusias.

Dalam proses penggarapannya,  Iksaka Banu banyak memberikan rujukan dan arahan visual kepada Pipin, dan keduanya juga terus bertukar opini untuk menentukan gambar maupun teks yang paling tepat untuk menonjolkan cerita. “Perjalanan menerbitkannya pun juga tidak terbilang mudah. Banu sempat berpindah-pindah penerbit sebelum akhirnya “Film Noir” menemukan rumahnya di Penerbit Sebermula, sebuah penerbit butik yang fokus pada terbitan sastra grafis,” ungkapnya.

Secara pribadi, Iksana Banu punya kesan menarik atas acara  Wisata Sastra ini yang kemudian  ditulis di Facebooknya. Disebutkan, sungguh menyenangkan mendapat kesempatan cukup panjang menjelaskan kolaborasi sastra dan grafis di hadapan 78 siswa SMAN 8 Bukti Duri siang tadi, 15 Juli 2026.  Di awal acara, kami agak khawatir melihat anak-anak itu tampak sangat pendiam dan hanya sedikit yang mengangkat tangan saat kami melempar pertanyaan, “Siapa yang senang membaca novel? Komik? Siapa yang senang menonton film? Siapa senang menulis atau menggambar?”

Keheningan masih berlanjut tulis Iksaka,  beberapa saat usai pemaparan materi dari Kurnia Effendi, saya, dan Wien Muldian. Untunglah moderator Endah Sulwesi pandai memprovokasi, sehingga anak-anak itu berani bertanya dan menyampaikan opini.

Di sesi tanya jawab itu barulah “wajah asli” mereka terlihat. Salah seorang dari mereka ternyata menyukai Kafka dan sudah tamat membaca “Metamorfosis”. Seorang lainnya sering memanfaatkan aplikasi menulis online untuk mengkespresikan diri dalam bentuk puisi atau prosa. Ada juga penggemar manga yang pernah mencoba ikut lomba menulis skenario fim. Terakhir, seorang anak bertanya dengan kritis tentang kasus pembajakan buku, antara niat baca versus kantong tipis anak SMA.

“Di akhir pertemuan, kami dapat menyimpulkan bahwa minat baca-tulis anak-anak gen alpha ini cukup tinggi dan pilihan untuk pergi ke perpustakaan adalah salah satu cara yang dapat mereka lakukan untuk mencari bahan bacaan bagus tanpa menguras isi dompet dan tanpa harus kompromi dengan para pembajak buku,” kata Iksaka Banu dalam kesannya di Facebook (FB)-nya.

Sebelum pulang, kami diajak tur melihat perpustakaan sekolah. Ruangannya bagus, bersih, dan luas. Buku-bukunya juga cukup lengkap. Di dinding perpustakaan, kami melihat sebuah perahu karet tergantung, lengkap dengan sepasang dayungnya.

“Itu perahu betulan, bukan hiasan, Pak,” kata Bu Sri Rejeki, sang kepala pepustakaan. “Tiap musim hujan panjang, sekolah ini kebanjiran, dan tinggi air bisa mencapa satu lantai kelas. Maka, di lantai atas selalu ada perahu karet dan jalur khusus untuk evakuasi.”

Wah, seru sekali perjuangan mereka menuntut ilmu. Tidak heran SMA 8 ini menjadi salah satu dari lima SMAN terbaik di Jakarta. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan