Fenomena Tokoh Kawasan Timur Indonesia

2 months ago 64

Fakta Terpilihnya Dr. Andi Amran Sulaiman sebagai Ketua Umum BPP KKSS 2025–2030

Oleh : Ali Mochtar Ngabalin (Ketua Umum Forum Kajian Mahasiswa Pascasarjana Asal Sulawesi Selatan (FKM-PASS) Pusat Jakarta Periode: 1997–2001)

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- Dalam tulisan sebelumnya, saya menyebut pelantikan pengurus BPP KKSS sebagai momentum pulang ke rumah besar perjuangan. Tulisan ini saya lanjutkan sebagai kesaksian lahirnya poros kepemimpinan baru yang menyatukan denyut kekuatan Indonesia Timur dan Tengah. Sosok itu adalah Dr. H. Andi Amran Sulaiman, MP.

Pada 22 Juni 2025, Amran Sulaiman resmi dilantik sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS) periode 2025–2030. Pelantikannya bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi momentum transformatif: diaspora perantau tidak lagi hanya pengisi ruang pembangunan, tetapi pengarah haluan bangsa.

Sebagai Menteri Pertanian yang kembali dipercaya di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Amran memiliki modal lengkap: kekuatan teknokratik, jaringan usaha solid, integritas birokrasi, dan akar sosial mendalam. Kini, ia memimpin diaspora nyata—lebih dari 4 juta warga perantau Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Dari sinilah saya memperkenalkan konsep baru: KAPAMA-NUSA, akronim dari Kalimantan, Papua, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

KAPAMA-NUSA merepresentasikan kawasan strategis Indonesia bagian tengah dan timur—wilayah tempat diaspora perantau tidak sekadar tumbuh, tetapi memimpin dan membangun. Mereka menjadi tulang punggung sosial-ekonomi masyarakat lokal, menyatukan denyut Kalimantan yang kaya sumber daya, Papua yang penuh potensi, Maluku yang historis, Bali sebagai simpul pariwisata dan diplomasi budaya, Nusa Tenggara yang produktif, dan Sulawesi sebagai poros diaspora Bugis-Makassar-Toraja.

Posisi Amran kini berada di persimpangan strategis. Beliau tidak boleh berhenti di organisasi. Ia harus naik ke gelanggang politik nasional.

Amran telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia bukan pencari panggung, melainkan pekerja sunyi yang kredibilitasnya dibangun melalui prestasi konkret. Justru karena itu, ia layak diberi ruang memimpin lebih besar.

Kepemimpinan di KKSS bukan tempat latihan, melainkan ladang konsolidasi strategis. Konsolidasi massa terorganisir, kekuatan ekonomi riil, potensi politik terukur, dan arah kebijakan jelas.

Organisasi sebesar ini membutuhkan figur yang tidak hanya kuat secara simbolik, tetapi juga strategis secara politik. Amran memiliki konvergensi semua perangkat kekuatan—ekonomi, birokrasi, jaringan, kredibilitas, serta legitimasi sosial dan kultural.

Setelah era Jusuf Kalla sebagai patron elite nasional dari Timur, kini lahir generasi baru bernama Amran Sulaiman. Ia bukan duplikat JK, melainkan versi baru dengan gaya kepemimpinan berbeda namun semangat pengabdian sama: membangun negeri dengan kerja keras, bukan slogan.

Jika JK menata kekuatan dengan patron-client relationship yang khas masa itu, maka Amran meniti jalannya lewat meritokrasi dan kerja konkret di setiap level. Jika JK beroperasi dalam era yang bertumpu pada figur sentral, Amran beroperasi dalam era yang menuntut kepemimpinan institusional dan pendekatan sistemik.

Inilah saatnya kekuatan KAPAMA-NUSA naik ke permukaan politik nasional. Tidak lagi menjadi penonton kekuasaan, melainkan arsitek kebijakan. Tidak hanya menyumbang pekerja dan pemodal dari daerah, tetapi juga kader politik dan pemimpin nasional berkualitas.

Selama ini kawasan KAPAMA-NUSA telah menyumbang signifikan: pekerja terampil, pemodal kuat, entrepreneur andal, dan sumber daya strategis. Kini saatnya menyumbang representasi politik yang proporsional dan meritokratis.

Langkah strategis yang harus diambil: masuk penuh ke sistem politik kenegaraan, mengawal pemerintahan Prabowo–Gibran dari dalam, bukan dari pinggiran.

Pemerintahan Prabowo–Gibran membutuhkan dukungan politik yang solid dan konstruktif. Dukungan paling efektif bukan sorakan dari luar, melainkan kemitraan strategis dari dalam sistem. Amran, dengan kapasitas dan legitimasi yang dimiliki, berada pada posisi ideal untuk memainkan peran ini.

Kepemimpinan Amran di KKSS adalah batu loncatan menuju peran politik nasional yang lebih besar. Konsolidasi diaspora KAPAMA-NUSA dapat menjadi pondasi kekuatan politik Indonesia yang berkelanjutan.

Inilah momentum KAPAMA-NUSA memasuki panggung utama. Bukan lagi sekadar pengiring, melainkan aktor utama yang menentukan arah dan kualitas kepemimpinan Indonesia ke depan.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan