Diskusi dan Bedah Buku Asa Bafagih: Diplomat dan Tokoh Pers Multi Talenta yang ‘Hilang’ dalam Sejarah

17 hours ago 7

SHNet, Jakarta- Sejarah kerap tak menangkap sosok penting dalam perjalanan suatu sejarah bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Biasanya karena alasan politis sang tokoh sengaja ‘dihilangkah’. Bisa juga karena alasan lain, apakah memang tidak ada yang sadar bahwa pemikiran dan  perannya begitu penting. Kemungkinan lain karena sang tokoh memang tidak mau ‘membesarkan’ dirinya dengan misalnya  upaya branding dengan berbagai sarana, menulis autobiografi, maupun meminta penulis profesional menuliskan kisah perjalanan dan tentunya pemikirannya.

Salah satu tokoh, Asa Bafagih termasuk dalam pusaran wacana tokoh yang tak terekam dengan baik dalam sejarah, baik sejarah pers maupun  sejarah diplomasi Indonesia   yang menjadi ikon kisah hidupnya. Sebab sepanjang puluhan tahun, Asa Bafagih sangat berperan dalam dunia pers  dan diplomasi Indonesia.

Perbicangan menarik soalnya ‘hilangnya’ tokoh dalam catatatn sejarah bangsa mengemuka pada diskusi dan bedah buku “Asa Bafagih Diplomat & Tokoh Pers Indonesia: Kisah Hidup dan Kumpulan Tulisan” karya Nabiel A. Karim Hayaze dengan pembahas Okky Tirto, dan moderator Hadi Nur Ramadhan yang diselenggarakan di Gedung Antara Heritage Center, Jakarta, Minggu (05/2026).

Pembahas atau pembedah buku, Okky Tirto mengungkap dan mempertanyakan, “Mengapa tokoh sebesar Asa Bafagih saat ini tidak banyak yang kenal? mengapa dia seolah’dihilangkan dalam catatan sejarah kita?”

Okky yang masih keturunan tokoh pers legendaris Tirto Adhisuryo mengatakan, ketika mencari nama Asa Bafagih, yang muncul di internet atau Wikipedia, hanya tiga kata. “Tiga kata saja tentang Asa Bafagih, sementara ada nama lain yang seperti kurang berperan, begitu panjang lebar diceritakan.”

Moderator diskusi, Hadi  Nur Ramadhan dari Rumah Sejarah Indonesia  mengamini. Menurutnya, sejumlah tokoh memang seperti ‘dihilangkan’ dan tidak banyak cerita perjalanan tokoh bersangkutan. “Kita sering lupa pada peran tokoh kita sendiri. Atau sengaja dilupakan?. Ini tantangan bagi Pemerintah dan semua elemen untuk menghargai peran dan perjuangan para tokoh Indonesia dalam berbagai bidang,’ katanya.

Alwi Shihab yang mengawali diskusi dengan memberikan sambutan dan kesannya menilai, soal tidak munculnya nama Asa Bafagih dalam sejarah Indonesia, khususnya sejarah diplomasi dan pers, mungkin karena memang yang bersangkutan tidak ingin perjuangannya diabadikan. ”Dia tidak membranding dirinya. Tapi dia berjuang dalam senyap tapi buktinya dirasakan pemerintah dan masyarakat Indonesia,” katanya.

Alwi Sihab sendiri cerita dirinya snagat bangga karena sempat melihat dan merasakan bagaimana sosok, pribadi dan peran Asa Bafagih dalam sejarah diplomasi kita. ”Ketika saya masih berusia 19 tahun dan sedang kuliah di Al Azhar Mesir,  ikut mendaftar untuk menjadi pendukung Konfresi Asia-Afrika kedua di Aljazair. Saat itu tahun 1960-an yang menjadi Dubes RI adalah Asa Bafagih (1964-1968). ia ikut merancang pertemuan internasional yang sangat penting itu. Sayang,  konfrensi itu gagal digelar. Padahal saya berharap mendapat pengalaman dan tentunya honor,”ujar Alwi.

Bedah buku Asa Bafagih: Dari kiri, Okky Tirto, Hadi Nur, dan Nabiel Hayaze

Hidup dalam Arsip dan Lembar Artikel

Penulis buku biografi Asa Bafagih, Nabiel A.Karim Hayaze seakan mengakui bahwa peran dan perjuangan Asa Bafagih memang tidak muncul secara proporsional dalam sejarah diplomasi dan sejarah pers Indonesia. Padahal di kedua ladang kedidupan itu, peran Asa Bafagih sangat kentara. “Dengan terbitnya  buku ini, semoga nama Asa Bafagih makin dikenal, khususnya generasi muda,” ujar Nabiel.

Dalam pengantar bukunya, Nabiel menulis judul menarik “Asa Bafagih: Pahlawan Terlupakan”. Dia menuliskan, nama Asa Bafagih tidak asing , namun juga tidak benar-benar hadir. Ia hidup dalam arsip, lembaran artikel di media, catatan kaki, dan fragmen-fragmen ingatan keluarga. Ia disebut sekilas tetapi jarang dibicarakan.

“Padahal, jejak hidupnya bersentuhan langsung dengan fase-fase  paling menentukan dalam sejarah Indonesia: Perjuangan kemerdekaan, lahirnya pers nasional, konsolidasi demokrasi awal, hingga diplomasi internasional di panggung Asia-Afrika,” papar Nabiel.

Menguatnya perbincangan soal peran besar Asa Bafagih di sisi lain dan ‘hilangnya’ jejak-jejak peran dan perjuangannya, akhirnya bermuara pada sejumlah usulan agar bagaimana nama, peran, dan pemikiran Asa Bafagih dapat diketahui masyarakat luas.

Pemberian buku secara sibolis dan Foto bersama

Okky Tirto, Hadi Nur, dan jua penulis Nabiel setuju untuk membuat sarana digital-audio video lewat tayangan wawnacara Podcast. “Kalau kita buat Podcast dan wawancara dengan sejumlah pakar, keluarga dan pihak yang berkepentingan, perluasan nama dan peran Asa Bafagih akan makin dikenal,” kata Okky.

Sementara Direktur Utama LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar saat memberi smabuatn mengatakan, buku karya Nabiel A Hayazeini ini bukan sekadar karya tulis, melainkan cerminan mendalam atas pemikiran Asa Bafagih. “Sosoknya memiliki kedekatan kuat dengan dunia literasi, kebudayaan, dan ruang publik yang lebih luas. Peluncuran ini menjadi pengingat akan nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan masa kini.”

Selain Alwi Shihab, hadir pemikira Islam dan pendiri Penerbit  Bentang Haedar Bagir, tokoh per H. Wiwoho,  keluarga besar Asa Bafagih dan insan media. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan