Webinar IMDE “Tanpa Visual Loe Bisa Mati”, Dorong Mahasiswa Hasilkan Karya Kreatif dan Bertanggung Jawab

7 hours ago 6

SHNet, Jakarta-Program Studi Produksi Media IMDE menggelar webinar bertajuk “Tanpa Visual Loe Bisa Mati: Ide Sekeren Apa Pun Nggak Akan Berarti Kalau Eksekusinya Biasa Aja” secara daring melalui Zoom, Jumat (04/09/2026).

Webinar ini menghadirkan Rifa Yusya Adilah, S.I.Kom., M.I.Kom., praktisi media sekaligus dosen IMDE, sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Christy Pricilia Lantemona, mahasiswa Program Studi Produksi Media IMDE.

Dalam pemaparannya, Rifa menjelaskan pentingnya kekuatan visual dalam menghadapi derasnya arus konten di media sosial. Menurutnya, audiens saat ini memiliki waktu yang sangat singkat untuk menentukan apakah akan memperhatikan sebuah konten atau langsung menggulir ke konten berikutnya.

“Kita hidup di era banjirnya konten. Setiap konten hanya punya waktu singkat untuk membuat audiens stay atau lanjut scroll. Visual membantu mata audiens menentukan apa yang harus dilihat terlebih dahulu sebelum memahami pesan yang ingin kita sampaikan di media sosial,” ujar Rifa.

Ia menekankan bahwa tiga detik pertama atau hook menjadi bagian penting dalam sebuah konten. Namun, visual hook tidak hanya berkaitan dengan gambar, melainkan juga mencakup teks dan audio yang mampu menarik perhatian audiens.

Menurut Rifa, keberhasilan sebuah konten tidak berhenti pada kemampuan menarik perhatian. Setelah audiens berhasil mendapatkan perhatian, konten harus mampu mempertahankan ketertarikan melalui cerita dan memberikan nilai yang dapat membangun kepercayaan.

“Visual gets them in, story makes them stay, value and truth grow trust. Jadi, visual menarik perhatian, cerita membuat audiens bertahan, sementara nilai dan kebenaran membangun kepercayaan,” jelasnya.

Rifa juga mengingatkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam memproduksi konten. Kreator tidak boleh mengabaikan fakta, menyebarkan informasi palsu atau hoaks, maupun membuat konten yang dapat memicu keresahan dan konflik di masyarakat.

Hal yang tidak kalah penting, menurutnya, adalah keselamatan dalam proses produksi. Kreator konten tidak seharusnya mempertaruhkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain hanya demi mendapatkan visual yang menarik.

“Don’t risk real life for content or visual. Jangan mengorbankan keselamatan diri sendiri maupun orang lain hanya demi visual. Tidak ada gambar atau konten yang sebanding dengan nyawa,” tegas Rifa.

suasana webinar

Ide Harus Diikuti Eksekusi yang Kuat

Sementara itu, Teguh Setiawan, S.Pd., M.I.Kom., Kaprodi Produksi Media IMDE, mengatakan bahwa perkembangan industri kreatif menuntut mahasiswa tidak hanya mampu menghasilkan ide, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkan ide tersebut menjadi karya visual yang kuat, kreatif, dan relevan.

“Di era ketika orang dibanjiri begitu banyak informasi, visual menjadi salah satu cara paling efektif untuk menarik perhatian dan menyampaikan pesan. Ide yang bagus saja tidak cukup. Bagaimana ide itu dikemas, divisualisasikan, dan dieksekusi dengan baik justru menjadi pembeda sebuah karya,” ujar Teguh.

Ia menambahkan, mahasiswa Produksi Media perlu memiliki keberanian untuk bereksperimen dan menghasilkan karya yang berbeda. Kreativitas, kemampuan teknis, storytelling, serta pemahaman terhadap karakter dan kebutuhan audiens harus dikembangkan secara beriringan.

Menurut Teguh, pembelajaran di Program Studi Produksi Media tidak sebatas kemampuan menggunakan kamera atau perangkat lunak editing. Mahasiswa juga didorong untuk memahami bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi pesan yang mampu memberikan pengalaman kepada audiens.

“Melalui webinar ini, kami ingin mahasiswa memahami bahwa Produksi Media bukan sekadar belajar menggunakan kamera atau software editing. Lebih dari itu, mahasiswa belajar bagaimana mengubah gagasan menjadi pesan yang mampu dilihat, dirasakan, dan diingat oleh audiens,” tambahnya.

Antusias Berdiskusi

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar visual hook, storytelling, hingga produksi konten yang menarik dan bertanggung jawab. Pertanyaan tersebut dijawab secara detail oleh Rifa sehingga diskusi berlangsung interaktif.

Teguh berharap webinar ini dapat memotivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi, berani mengeksplorasi ide, serta menghasilkan karya visual yang kreatif, bermakna, dan bertanggung jawab. Sebab, ide yang kuat harus diikuti dengan eksekusi yang kuat pula. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan