Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
Ada kalanya perjalanan diplomatik seorang kepala negara perlu dipahami lebih dari sekadar pertemuan antara dua pemimpin. Pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, pada 13 April 2026, merupakan salah satu contohnya.
Pertemuan tersebut berlangsung sekitar lima jam, terdiri atas dua jam dalam format bilateral dan dilanjutkan dengan tiga jam pertemuan empat mata. Kedua pemimpin membahas penguatan kerja sama strategis, termasuk di bidang energi dan sumber daya mineral, ketahanan energi dan migas, hilirisasi, serta pengembangan industri. Agenda yang lebih luas juga mencakup antariksa, pertanian, farmasi, dan pendidikan.
Oleh karena itu, saya memandang pertemuan Prabowo–Putin bukan semata-mata sebagai peristiwa diplomatik. Pertemuan tersebut memberikan gambaran yang semakin jelas mengenai arah Indonesia dalam menghadapi perubahan geopolitik global: Indonesia ingin menjalin persahabatan, memperluas kerja sama, dan membangun kemitraan strategis dengan sebanyak mungkin negara sesuai kepentingan nasional dan Rusia merupakan salah satu mitra penting bagi Indonesia.
Diplomasi Negara dan Diplomasi Antarpartai
Dalam konteks ini, saya melihat relevansi diplomasi internasional Partai Golkar. Politik luar negeri merupakan kewenangan negara yang dilaksanakan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia. Posisi ini harus dipahami secara jelas dan tidak boleh dipertukarkan.
Namun, dalam hubungan internasional modern, diplomasi tidak hanya berlangsung melalui jalur government-to-government. Diplomasi juga dapat dilakukan melalui parlemen, sektor ekonomi, kebudayaan, pendidikan, people-to-people diplomacy, dan tentu saja party-to-party diplomacy.
Bagi Partai Golkar, hubungan dengan Partai Rusia Bersatu bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba karena kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow.
Partai Golkar dan Partai Rusia Bersatu telah memiliki fondasi hubungan formal. Pada 11 Juni 2021, kedua partai menandatangani nota kesepahaman kerja sama yang mencakup bidang politik, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Pada saat yang sama, dibahas pula peluang pertukaran kader serta pengembangan komunikasi antarkedua partai.
Artinya, jembatan hubungan tersebut telah dibangun. Tugas kita sekarang adalah memastikan agar jembatan itu semakin produktif dan mampu memberikan kontribusi bagi kepentingan Indonesia.
Menuju Diplomasi yang Produktif
Mencermati dinamika ini, saya berpandangan bahwa party-to-party diplomacy tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, pertukaran delegasi, foto bersama, atau kunjungan seremonial.
Tapi, diplomasi harus menghasilkan kepercayaan. Kepercayaan harus melahirkan kerja sama. Dan pada akhirnya, kerja sama harus memberikan manfaat bagi rakyat.
Oleh karena itu, hubungan Partai Golkar dengan Partai Rusia Bersatu perlu terus diisi dengan agenda strategis yang konkret.
Kita dapat membangun dialog reguler mengenai perkembangan geopolitik Asia Pasifik dan Eurasia. Kita dapat memperluas kerja sama di bidang pendidikan serta hubungan antarlembaga kajian. Kita dapat mempertemukan generasi muda dan kader kedua partai. Kita juga dapat membuka komunikasi dengan dunia usaha, serta memperluas diskusi mengenai ketahanan energi, ketahanan pangan, teknologi, industri, investasi, dan berbagai kepentingan strategis lainnya.
Dengan demikian, berbagai agenda strategis dan langkah nyata ini dengan sendirinya akan terbentuk atau terjalin hubungan yang saling memperkuat dan saling menumbuhkan ke arah yang lebih baik.
Tentu, Presiden Prabowo dan Presiden Putin bekerja pada tingkat state-to-state dan government-to-government. Sedangkan Partai Golkar dan Partai Rusia Bersatu memperkuat komunikasi pada tingkat party-to-party.
Begitu juga, parlemen dapat memperkuat parliament-to-parliament diplomacy. Universitas dapat memperluas academic diplomacy. Dunia usaha dapat membuka business-to-business cooperation. Sementara itu, masyarakat kedua negara dapat memperkuat people-to-people relations.
Apabila seluruh jalur tersebut bergerak dalam kerangka kepentingan nasional yang sejalan, maka hubungan Indonesia–Rusia akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh.
Golkar Mengawal, Bukan Mengambil Alih
Bagi saya, kata yang paling tepat dalam memandang relasi ini, Golkar lebih kepada posisi mengawal. Partai Golkar tidak mengambil alih diplomasi negara dan tidak pula membentuk politik luar negerinya sendiri.
Sebagai partai politik yang berada dalam pemerintahan, Golkar memiliki tanggung jawab politik untuk mendukung agenda pemerintah yang memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.
Oleh karena itu, kerja Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar harus ditempatkan dalam kerangka tersebut: mengawal diplomasi Presiden Prabowo Subianto dan memperluas jaringan persahabatan Indonesia di dunia internasional.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Putin menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–Rusia memasuki ruang kerja sama yang semakin substantif. Pemerintah sendiri menyebut Rusia sebagai mitra penting dan strategis bagi Indonesia, sementara Indonesia dipandang sebagai salah satu mitra utama Rusia di kawasan Asia Pasifik, khususnya ASEAN. Inilah momentum yang harus diterjemahkan melalui diplomasi antarpartai.
Jika Presiden Prabowo membuka pintu besar bagi hubungan strategis Indonesia–Rusia, maka jalur-jalur diplomasi lainnya harus membantu memastikan bahwa pintu tersebut menghasilkan sebanyak mungkin peluang bagi kepentingan bangsa.
Bebas Aktif: Bersahabat Tanpa Kehilangan Kemandirian
Namun, dalam konteks ini, ada prinsip yang tidak boleh kita tinggalkan. Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif. Oleh karena itu, penguatan hubungan dengan Rusia tidak boleh dimaknai sebagai pilihan Indonesia untuk bergabung dengan blok geopolitik tertentu.
Indonesia dapat bersahabat dengan Rusia sekaligus membangun hubungan yang produktif dengan Amerika Serikat, Tiongkok, negara-negara Eropa, Jepang, Korea Selatan, India, negara-negara Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan seluruh negara sahabat.
Justru di situlah letak kekuatan Indonesia. Kita tidak perlu menjadi satelit bagi siapapun. Indonesia harus menjadi sahabat yang dapat dipercaya, mitra yang diperhitungkan, sekaligus bangsa yang memiliki keberanian untuk menentukan kepentingannya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik, rivalitas kekuatan besar, dan kompetisi geopolitik, kemampuan Indonesia untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak merupakan modal diplomatik yang sangat besar.
Indonesia tidak harus memilih antara Timur dan Barat
Dalam dinamika global yang seperti itu, Indonesia tidam harus memilih salah satu poros, tapi Indonesia harus memilih kepentingan nasional Indonesia.
Oleh karena itu, saya menyambut positif dan mengapresiasi semakin intensifnya hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin.
Pertemuan di Kremlin pada April 2026 menunjukkan keseriusan kedua negara. Presiden Prabowo menekankan bahwa komunikasi Indonesia–Rusia berkembang secara produktif dan saling menguntungkan, sementara kedua negara memperkuat implementasi kemitraan strategis yang telah dideklarasikan pada 2025.
Bagi Partai Golkar, perkembangan tersebut sekaligus membuka ruang yang semakin besar untuk menjadikan hubungan dengan Partai Rusia Bersatu lebih substantif.
Namun, kuncinya kita harus bergerak dari MoU menuju action. Dari komunikasi menuju implementasi. Dari party-to-party relationship menuju party-to-party strategic partnership yang memberikan kontribusi nyata bagi hubungan Indonesia–Rusia. Pada akhirnya, seluruh upaya tersebut harus bermuara pada satu kepentingan: Indonesia.
Saya percaya bahwa diplomasi yang kuat tidak selalu dimulai dari meja perundingan formal tapi terkadang lewat hubungan besar antarnegara tumbuh dari kepercayaan yang dirawat selama bertahun-tahun melalui berbagai jalur.
Oleh karena itu, Partai Golkar harus terus hadir. Membuka komunikasi, merawat persahabatan, memperluas jaringan, menjaga kepercayaan. Dan ketika kepentingan nasional membutuhkan jembatan, Golkar harus mampu menjadi salah satu pihak yang membantu membangunnya.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Rusia pada tingkat negara. Partai Golkar dan Partai Rusia Bersatu memiliki ruang untuk memperkokohnya melalui party-to-party diplomacy.
Semua ini, vukan untuk kepentingan satu partai. Bukan pula untuk membawa Indonesia masuk ke dalam blok tertentu, tapi melainkan untuk membantu memastikan bahwa setiap persahabatan internasional yang kita bangun dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara.
Inilah diplomasi yang harus kita rawat: diplomasi yang menambah sahabat, memperluas kerja sama, menjaga kedaulatan, dan senantiasa menempatkan Merah Putih di atas segala kepentingan.
Prof. Ali Mochtar Ngabalin, Visiting Professor Hubungan Internasional Tomsk State University (TSU) Siberia Rusia. Juga sebagai Special Professor of International Relations and Communications, Busan Univetsity of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan 2024 – 2026.


















































