SHNet, Kebumen- Ajang besar yang menggabungkan wisata, seni, budaya, dan perekonomian masyarakat bernama Kebumen Travel Mart dan Gombng Culture Festival yang digelar selama tiga hari sejak 27 hingga 29 Agustus 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi peserta, khususnya buyer dan seller.
Acara dikemas sedemikian rupa yang intinya menampilkan potensi unggulan perekonomi Kebumen, seni dan budaya serta beragam destinasi unggulan, mulai destinasi sejarah, budaya, dan alam yang sangat indah. Karena itu di haru terakhir yakn pada Sabtu, dilankukan Trip KTM 2026 yang diikuti lebih 200 buyer-seller baik dari dalam maupun luar negeri.
Trip i dibagi menjadi dua kelompok perjalanan, pertama kelompok timur yang mengunjungi wisata kebumian, agrowisata kebun kelengkeng, dan Pantai Karangbolong. Sedangan kelompok barat mendatangi destinasi Waduk Sempor, lalu ke Gua Jatijajar, dan ditutup menikmati keindahan alam Pantai Menganti yang eksotik dan bersih.
Bagian tulisna ini mengulas kelonpok trip barat yang dipimpin oleh pemandu loka yang sngat berpengalaman yakni Bapak Deksiano, warga Kebumen yang sudah malang melintang memandu wisatawan yang ingin mngunjungi destinasi di Gombong dan Kebumen.
Rombongan buyer-seller pertama tia di Waduk Sempor yang terletak di Desa Sempor,Kkecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Jateng.
Keberadaan Waduk Sempor di Kebumen memberikan udara sejuk dan juga asri khas pegunungan yang tidak lazim untuk daerah seperti Kebumen. Apalagi jika dilihat dari faktor geografis, Kebumen adalah sebuah kabupaten yang berlokasi dekat dengan pantai selatan yang umumnya bersuhu tinggi. Keindahan dan panorama Waduk Sempor sering dibandingkan dengan Waduk Jatiluhur di Purwakarta.
Selain sebagai objek wisata, Waduk Sempor juga merupakan sumber air irigasi bagi lahan pertanian di bagian hilir. Waduk Sempor menjadi bagian dari sarana irigasi teknis untuk mengairi ribuan hektar sawah di Kebumen bagian barat.
Para buyer-seller yang umumnya pegiat travel agent sangat antusia menikmati suasana waduk dan tak lupa berfoto ria.
Sejarah Sempor
Pada t 1916, pemerintah Hindia Belanda telah mengidentifikasi bahwa di Sempor terdapat lokasi yang ideal untuk pembangunan waduk. Identifikasi tersebut dilakukan guna menyediakan air untuk mengairi lahan pertanian yang ada di Sempor dan sekitarnya. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1950, pemerintah kembali melanjutkan penelitian mengenai lokasi ideal untuk pembangunan waduk di Sempor. Dari penelitian tersebut pun dapat dihasilkan rancangan mengenai waduk di Sempor.Pemerintah kemudian melakukan pemindahan terhadap warga yang akan terdampak oleh pembangunan waduk di Sempor. Sebagian warga pun pindah ke Dusun Karangjoho di Kecamatan Sempor, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Sempor. Setelah pemindahan selesai dilakukan, pembangunan waduk ini pun dimulai pada tahun 1958, diawali dengan pembangunan bendungan pembantu dan terowongan pengelak.
Pada tahun 1968, Lembaga Penyelidikan Masalah Air (LPMA) mulai melakukan penelitian geologi di lokasi pembangunan waduk, dan setahun kemudian, pemerintah pun kembali melanjutkan pembangunan waduk ini dengan menggunakan pinjaman dari ADB. Rancangan bendungan utama juga disempurnakan, sehingga daya tampung waduk ini dapat ditingkatkan dari 36 juta meter kubik menjadi 52 juta meter kubik. Selain itu, juga dirancang PLTA untuk memanfaatkan air yan tertampung di waduk ini. Pembangunan waduk ini akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1978, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Maret 1988.
Serunya kumpul dan jelajah Gua JatijajarMenariknya Gua Jatijajar
Usai menikmati suasnaa Waduk Sempor yang indah dengan semilir angin yang membuat badan terasa sejuk, perjalanan dilanjutka ke Gua Jatijajar.
Gua ini adalah sebuah situs geologi yang terbentuk dari proses alamiah, yang terletak di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gua yang keseluruhannya terbentuk dari kapur, ini memiliki panjang 250 meter, llebar rata-rata 15 meter, dan tinggi rata-rata 12 meter. Lokasi gua ini berada 50 meter di atas permukaan laut. Gua Jatijajar merupakan salah satu objek pariwisata andalan di Kabupaten Kebumen, selain Waduk Sempor.
Mengenai sejarah Gua Jatijajar, dapat dikemukakan, gua ditemukan pada tahun 1802 oleh seorang petani bernama Jayamenawi yang memiliki lahan pertanian di atas gua tersebut. Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh ke sebuah lubang yang ternyata lubang itu adalah sebuah ventilasi yang ada di langit-langit gua tersebut. Lubang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada di bawahnya 24 meter.
Setelah Jayamenawi menemukan gua, tak lama kemudian Bupati Ambal, salah satu penguasa Kebumen waktu itu, meninjau lokasi tersebut. Saat mendatangi gua, dia menjumpai dua pohon jati tumbuh berdampingan dan sejajar pada tepi mulut gua. Dari kisah itulah asal-muasal penamaan Gua Jatijajar. Pada mulanya pintu-pintu gua masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ditemukanlah pintu gua yang sekarang menjadi pintu masuk.[2][2]
Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya 4 sungai yaitu: Sungai Puser Bumi, Sungai Jombor, Sungai Mawar, dan Sungai Kantil
Pada tahun 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi objek wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Gua Jatijajar yaitu Suparjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah pada saat itu. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.
Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat stalagmit dan juga pilar atau tiang kapur, yaitu pertemuan antara stalaktit dengan stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Gua Jatijajar merupakan gua Kapur yang sudah tua sekali.
Rombongan sebelum memasuki Gua Jatijajar yang harus menaiki tangga yang lumayan tinggi, tapi sduah dilengkapi dengan pengamanan yang bagus, rombongan masuk ek Gua Dempok, jadi gua ini semacam pintu gerbang menuju Gua Jatijajar. formasi guw yang menaik menurun dengan tangga yang bagus memudahkan wisatawan menikmati keindahan dalam gw dan menikmati sumber air yang konon membuat pengunjung terlihat .
Di dalam Gua Jatijajar terdapat 8 (delapan) deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari “Raden Kamandaka – Lutung Kasarung”. Adapun kaitannya dengan Gua Jatijajar ialah, dahulu kala Gua Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.
Kebersamaan di Pantai MengantiPesona Pantai Menganti
Perjalanan rombongan terakhir adalah ke kawasan Pantai Menganti yang sangat Indah. Pantai ini dikenal sebagai salah satu pantai terindah di Jawa Tengah dengan julukan “New Zealand-nya Indonesia” karena tebing hijau yang langsung berbatasan dengan laut selatan
Untuk menuju pantai rombongan harus melawati tebing yang lumayan curam, karena itu bus yang membawa rombongan harus berhenti di satu titik dan berganti dengan angkutan kota bak terbuka gratis yang sudah disediakan pengelola. dengan begitu, secara bergantian, rombongan diantar ke lokasi pantai dengan mobil kecil kecil bak terbuka yang lincah naik dan turun serta menukik.
Pantai Menganti merupakan sebuah pantai yang berlokasi di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Bentang alam pada Pantai Menganti terdiri dari perbukitan dan pasir putih. Sejak tahun 2011, Pantai Menganti menjadi tempat wisata dan selancar, sekaligus pelabuhan dan pelelangan ikan.
Pemanfaatan partai sebelum tahun 2011, Pantai Menganti hanya dimanfaatkan oleh nelayan sebagai pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Kemudian pada tahun 2011, Pantai Menganti ditetapkan sebagai tempat wisata bagi masyarakat umum. Bersamaan dengan fungsinya sebagai tempat wisata, Pantai Menganti juga menjadi tempat selancar oleh komunitas peselancar dari Kabupaten Sukabumi maupun dari Pulau Bali. (sur)


















































