Sepakbola Adalah Pemersatu Bangsa?

1 month ago 37

Oleh : M. Nigara

SEPAKBOLA adalah pemersatu bangsa. Berulang kali, saya tak bosan untuk menuliskan dan menyatakan itu. Berbagai event telah menjadi buktinya. Saat Pilpres, Pilkada, Pileg, atau pil-pil lainnya, kita nyaris berhadap-hadapan. Utamanya ketika 2019 di mana ada pihak yang telah sukses memecah-belah anak bangsa.

Tak sedikit keluarga pecah, persahabatan retak, dan pertemanan hancur, hanya karena perbedaan pilihan. Bahkan, meski faktanya ada presiden yang ketika turun dari kursinya meninggalkan beban hutang maha dahsyat, serta serentetan kebohongan yang menjadi jejaknya, tetap saja dipuja oleh segelintir orang. Sadar atau tidak, mata hatinya telah tertutup pada kebenaran.

Namun, begitu mereka datang ke stadion untuk menyaksukan laga timnas, seluruh perbedaan, runtuh. Mereka berangkulan, bertepuk tangan, meneriakan yel-yel membela timnas. Diam-diam, sebagai wartawan sepakbola yang aktif sehak Desember 1979, begitu adem menyaksikan semua itu.

Rusuh…

Tapi, tunggu dulu. Minggu kesatu dan dua, Februari 2025, ada yang berbeda. Sepakbola yang sudah mampu meruntuhkan perbedaan keras di antara kita, tiba-tiba terancam. Minimal empat kejadian paling menonjol dan sungguh memprihatinkan.

Adalah suporter Persipur (Purwodadi) yang mengamuk setelah timnya di kandang sendiri kalah dari Persebi Boyolali, 1-3 di Liga-4. Memang bukan pemain lawan yang diamuk, tapi stadion, fasilitas umum, serta RS Yakkum, di Grobogan, berantakan. Beruntung, polisi dapat segera mengamankan puluhan pelaku.

Dari Liga Nusantara, para pemain dan suporter Persekabpas Pasuruan, secara tidak terpuji mengejar-ngejar pemain Tornado FC, setalah mereka kalah 1-2. Dalam sekejab, stafion R. Soedarsono, menjadi saksi kerusuhan itu.

Apa saja dilemparkan ke arah pemain lawan. Beruntung hingga tulisan ini dibuat, tidak tercatat korban jiwa. Tapi, korban luka-luka lumayan banyak. Intinya, mereka tidak terima dilalahkan.

Dalam laga play off Liga-2, suporter Persipa Pati, mengamuk dan merusak berbagai fasilitas stadion Joyokusumo, Pati. Penyebab kerusuhan sama seperti rusuh lainnya, Pati kalah 1-2 dari Persipura, Jayapura.

Masih dari liga-2, meski tidak melibatkan suporter secara masif, kerusuhan dilakukan oleh para pemain Persiraja, Banda Aceh, setelah kalah tipis dari tuan rumah PSPS, Pekanbaru, Riau.

Tidak puas dengan kepemimpinan wasit Amri Nurhadi, kapten Persiraja mengejar dan memiting sang wasit dari belakang. Ia terlihat memberi komando pada teman-teman. Beruntung petugas sigap hingga wasit gagal ‘dieksekusi’ oleh mereka.

Semua kekesalan tumpah karena wasit dianggap, _catatan: Persiraja secara resmi telah mengirim surat protes resmi ke PSSI_, merugikan mereka sedikitnya ada dua kejadian yang dianggap sengaja dilakukan wasit untuk membela tim lain.

Dua kejadian itu terjadi di dalam kotak penalti. Pertama menit 17, pemain Persiraja, Ramadhan dan menit 22, Deri Corfe, sama-sama dijatuhkan dengan keras di dalam kotak penalti. Uniknya, wasit tidak menganggap apa-apa. Dan masih banyak lagi catatan keyimpangan wasit.

Ya, sengawur apa pun wasit, pemain dan ofisial dilarang menyentuh wasit. Para pemain Persiraja bukan hanya menyentuh, tapi terlihat dengan jelas ingin melakukan kekerasan.

Terakhir, dan pasti bukan yang terakhir jika kepentingan sektoral masih kuat, Persipasi vs Perserang. Laga baru berjalan 9 menit ketika kerueetan terjadi. Diawali kartu merah untuk pemain Perserang.

Gelombang protes terjadi sangat panjang. Anehnya, seorang ofisial Perserang yang masih dalam hukuman dari Komdis dilarang mendamlingi timnya selama 4 pertandingan, menyeruak, turun dari tribun ke arah kamar ganti wasit.

Dalam video yang sudah beredar di media sosial, ofisial yang satu ini meminta wasit diganti. Meski laga baru berjalan 9 menit, ia sudah merasa wasit yang sengaja dipasang untuk mengalahkan timnya.

Ketika terjadi protes ia melontarkan kata-kata: “Jadi wasit gak bisa diganti? Kecuali cedera… Kalau gitu gue ….. atau ….. (kalimatnya tak elok utk ditulis secara lengkap) baru bisa diganti!” katanya.

Senin (10/2/25) laga terhenti total, namun setelah disepakati bersama, pertandingan dilannutkan keesokan harinya, laga play off dilanjutkan, dan Perserang menang 3-1.

Nah, setelah laga selesai, giliran Persipasi yang protes. Mereka mengirim protes dan minta perserang didiskualifikasi. Anehnya mereka mau saja bermain. Tapi, begitu kalah, eee kok…

Begitu sepakbola yang seharusnya menjadi alat pemersatu, eeee sekarang kok jadi begini?

Mengapa semua kerusuhan terjdi? Jawabnya kepentingan sektoral… Jika hal ini tidak segera teratasi, saya khawatir, di tingjat nasional oke, eee di tingkat daerah amburadul.

Ayo, segera kembali kepersatuan dan kebersamaan….

(Penulis adalah wartawan senior sepakbola)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan