Satu Tahun ASR-Hugua: Melayani dengan Hati

1 day ago 9

KENDARIPOS.CO.ID-Satu tahun sudah ASR-Hugua dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra. Sebelum menulis opini ini, sebenarnya saya masih menunggu, ada seremonial apa gerangan untuk memperingati setahun menakhodai Sultra? Namun, seperti biasa, ASR tidak terlalu tertarik akan hal-hal berbau seremonial.

Sejak dilantik sebagai Gubernur, ASR memang tidak pernah menjanjikan karya monumental. Saya mengamati pada setiap forum perencanaan pembangunan daerah. Baginya, tidak penting namanya terpahat dan dipatenkan pada sebuah prasasti bangunan yang berdiri kokoh.

Ini menunjukkan bahwa ASR merupakan sosok pemimpin yang tidak egois. Ia memilih me-revitalisasi infrastuktur dan prasarana yang sudah tersedia. Misalnya revitalisasi PPI yang sekarang sudah dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakt, rehabilitasi tugu MTQ yang kini semakin tertata dan ASRI, dan teranyar, ia akan melanjutkan pembangunan kantor Gubernur, yang selama ini sempat terhenti.

ASR paham betul, di balik karya-karya monumental ini, bukan namanya yang tercatat dalam prasasti sebagai pencetus dan pembangun. Lalu apakah itu artinya ia tidak membangun?

Menurut KBBI, secara ringkas, membangun adalah proses dinamis mendirikan fisik atau membina sistem menjadi lebih baik. Ia juga berarti memperbaiki dan bersifat konstruktif.
ASR bukannya tak punya mimpi atau visi-misi. Ia punya road map. Tetapi menginginkan masyarakat Sultra selalu tersenyum, adalah puncak kebahagiannya.

Bukan semata karena efisiensi anggaran. Sebagai perencana sebuah OPD, saya paham kondisi keuangan daerah tercinta kita saat ini di tengah hegemoni efisiensi. Namun, ini adalah soal memaksimalkan uang negara terserap secara efektif dan efisien.

Totok Mardikanto mengatakan bahwa pembangunan sebenarnya meliputi dua unsur pokok; pertama, materi yang akan dihasilkan dan dibagi, dan kedua adalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif, dan manusia pembangun.

Bagaimanapun juga, pembangunan pada akhirnya harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif, dan untuk bisa kreatif ini manusia harus merasa bahagia, aman, dan bebas dari rasa takut.

ASR tidak pernah memandang remeh soal pembangunan manusia ini. Ia selalu nerupaya agar Sultra benar-benar menjadi rumah bagi setiap penghuninya dengan perasaan bahagia, aman dan tenteram.

Hal ini terlihat dari aspek indikator makro pembangunan, dimana ASR dinilai sukses membawa Sultra ke arah lebih baik, entah dari aspek ekonomi maupun sumber daya manusia.
Sebagaimana kita ketahui bahwa indikator makro pembangunan adalah ukuran kuantitatif komposit yang digunakan untuk menilai kinerja dan keberhasilan pembangunan ekonomi serta sosial suatu wilayah atau negara.

Indikator utama makro meliputi pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, pendapatan per kapita (PDRB), tingkat kemiskinan, pengangguran terbuka, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Lalu sebut saja indikator pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bappeda Prov. Sultra sampai dengan triwulan ketiga 2025, ekonomi Sultra tumbuh sebesar 5,74%. Angka ini belum mencapai target RKPD 2025 yang ditetapkan sebesar 5,96.

Namun, Bappeda optimis bahwa target ini dapat dicapai sampai akhir periode RKPD 2025 di triwulan keempat. Dan kabar bahagianya, jika disandingkan dengan capaian tahun 2024 di angka 5,4%, maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun 2025 mengalami peningkatan.

Begitu pula dengan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Capaian tahun 2024 sebesar 73,62%, sedangkan tahun 2025 sebesar 74,25%. Hal ini meningkat 0,63 poin atau 0,86 %.

Peningkatan indeks pembangunan manusia ini menandakan kualitas hidup masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi terus membaik.

Demikianlah ASR. Ia pernah berkata pada sebuah apel pagi, di hadapan ribuan ASN Pemprov. Diam-diam saya mengambil file rahasia dalam cerebrum, lalu mencatatnya.

“Tidak perlu berusaha membuat saya senang. Saya yang akan berusaha menyenangkan kalian, dan kalian bantu saya menyenangkan masyarakat.”

Dan, ya… Selalu ada yang dipertaruhkan ketika kita berusaha bekerja sepenuh hati. Tapi tak apa! Setidaknya, kita setia merawat dan mengawal cita-cita.

ASR hadir untuk mencontohkan; jangan mengambil lebih dari hak, tapi berikanlah lebih dari kewajiban kita. Ia menunjukkan bahwa tidak semua tuduhan harus dijawab dengan kata-kata. Tidak semua wacana harus dibalas dengan bahasa verbal.

Bekerjalah saja. Jalani, nikmati, syukuri. Sering kali, keraguan akan berhenti dengan sendirinya ketika dihadirkan fakta. Wacana menjadi kandas tak tersisa ketika ada aksi yang tampak demikian nyata. Dan Sulawesi Tenggara Maju yang Aman, Sejahtera dan religius bukan lagi sebatas visi-misi dalam dokumen perencanaan, melainkan akan diwujudkan dengan langkah yang cermat dan terukur. (*)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan