SHNet, Jakarta – Tiga mahasiswa Program Studi Profesi Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta Angkatan Pertama, yaitu Gita Cendana Putri, S.Psi., Muhammad Imam Shiddiq, S.Psi., dan Qanitah Salsabila Tanjung, S.Psi., mengubah praktik kerja profesi mereka menjadi sebuah gerakan pemberdayaan yang bermakna di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bukit Duri Bercerita, Tebet, Jakarta Selatan.
Selama sekitar dua bulan, sejak Juni lalu, ketiga mahasiswa YAI tersebut, melalui program mingguan yang interaktif, mereka menciptakan ruang aman bagi remaja usia 12-15 tahun untuk bertumbuh, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan.
Keterlibatan ketiganya bukan semata-mata pemenuhan kewajiban akademik, melainkan didasari ketertarikan untuk berinteraksi langsung dan mendukung pengembangan anak-anak di komunitas tersebut. Fokus utama program adalah psikoedukasi yang bertujuan membekali para remaja dengan pengetahuan psikologis dasar yang relevan dengan kehidupan mereka, seperti pengendalian emosi, manajemen kecemasan, dan cara mencintai diri sendiri (self-love).
Untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran, para mahasiswa menerapkan pendekatan yang terstruktur. Sebelum memulai, mereka menyebar kuesioner psikologis untuk melakukan analisis masalah dan memahami kebutuhan utama para peserta. Berdasarkan hasil tersebut, serangkaian kegiatan dirancang untuk membangun berbagai keterampilan.
Salah satu mahasiswa, Imam Shiddiq menjelaskan, metode yang digunakan sangat bervariasi untuk menjaga antusiasme peserta. Setiap pertemuan dibuka dan ditutup dengan sesi permainan yang penuh energi, seperti pesan berantai yang melatih konsentrasi dan keakuratan komunikasi, serta tebak gaya yang mendorong kreativitas dan keberanian untuk berekspresi di depan teman-temannya.
Diungkapkan Imam, ada pula permainan ABC 5 dasar yang secara langsung mengasah kecepatan berpikir dan wawasan umum mereka. Sesi permainan ini terbukti efektif tidak hanya sebagai pemecah suasana (ice breaking), tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan diri dan kerja sama tim.

Diskusi Kelompok Mendalam
Mahasiswa lain, Gita Cendana menambahkan, memasuki kegiatan inti, para mahasiswa memfasilitasi sesi diskusi kelompok yang mendalam. Di sini, para remaja tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi didorong untuk berbagi pandangan, pengalaman pribadi, dan solusi terkait topik psikoedukasi yang dibahas, seperti cara menghadapi tekanan atau mengelola kecemasan. Forum ini secara nyata memperkuat ikatan pertemanan dan menciptakan sistem dukungan sebaya (peer support system) yang solid di antara mereka.
Sebagai penutup yang reflektif, diadakan sesi penulisan diari. Kegiatan ini menjadi sebuah ruang pribadi yang aman, di mana para remaja dibimbing untuk belajar mengenali, menyusun kata-kata, dan mencurahkan perasaan kompleks mereka ke dalam tulisan. Ini menjadi alat yang ampuh untuk introspeksi diri dan melatih mereka mengelola emosi secara lebih sehat dan terstruktur.
Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dan dukungan penuh dari para pengelola TBM, Kak Ning dan Kak Sur, serta orang tua dan masyarakat sekitar. “Dukungan penuh yang diberikan kepada kami menciptakan suasana yang nyaman dan ramah untuk melakukan kegiatan bagi anak-anak yang berasal dari berbagai latar belakang. Hasilnya, mereka dapat merasa diterima, didengar, dan tumbuh menjadi lebih percaya diri,” ungkap Gita.


Sangat Positif
Menjelaskan bagaimana tanggapan peserta yakni para remaja yang biasa belajar di TBM, mahasiswa Qanitah Salsabila mengungkapkan, respons yang ditunjukkan para remaja pun sangat positif; mayoritas dari mereka sangat aktif dalam setiap kegiatan. Bagi anak dan remaja yang awalnya pemalu, para mahasiswa secara konsisten memberikan dorongan hingga terlihat adanya perubahan progresif di setiap pertemuan, di mana tiap anak menjadi semakin berani dan percaya diri.
Salah satu aktivitas kreatif yang paling berkesan adalah “Pohon Harapan”. Mengenai kegiatan ini, Imam menjelaskan, “Mereka sering bercerita soal cita-cita. Kami bantu mereka menuliskannya dan menempelkannya di gambar yang kami sebut Pohon Harapan untuk memvisualisasikan masa depan mereka,” kata Qanitah
Dampak mendalam dari suasana yang terbangun ini dikonfirmasi oleh Qanitah. “Melihat mereka yang selalu antusias menanti kedatangan kami setiap minggu menjadi pengalaman yang sangat menyentuh. Beberapa anak bahkan menyampaikan bahwa mereka merasa cemas di lingkungan luar seperti sekolah atau rumah, dan kini menganggap TBM sebagai rumah kedua mereka,” tutur Qanitah
Kehadiran para mahasiswa ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam mendukung pertumbuhan psikologis dan sosial anak-anak melalui pendekatan komunitas. Program ini diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi berkelanjutan antara dunia akademik dan komunitas dalam menciptakan ruang yang inspiratif bagi tumbuh kembang generasi muda. (sur)