Kiper Vozinha Tak Mau Sia-siakan Momen, Semua Satu Jantung untuk Tanjung Verde

8 hours ago 4

Oleh: Eddy Lahengko

Pengalaman, ketrampilan dan strategi pemain pemain Argentina diuji skuad Tanjung Verde dalam laga di penghujung babak 32 Besar Piala Dunia, Sabtu (4/7/2026). Apakah kemampuan, yang dimiliki Lionel Messi, Lautaro Martinez, Juan Alvarez, yang didukung dari lini tengah De Paul, Mac Allister dan Enzo Fernandez bisa membongkar pertahanan berlapis pemain Tanjung Verde? Ataukah sang juara bertahan Argentina kewalahan menghadapi serangan balik cepat Ryan Isaac Mendes dkk? Yang pasti dalam laga ini, Tim yang diarsiteki Pelatih Bubista ini bakal melakukan pertahanan berlapis secara ketat dan penuh disiplin didaerah pertahanan sendiri. Skuad ini tidak mungkin bermain terbuka menghadapi Argentina. Jika pasukan Bubista melakukan ini berarti malapetaka buat Tanjung Verde.

Laga lainnya yang menutup babak 32 besar ini adalah Australia versus Mesir (Sabtu dinihari) dan Kolombia menghadapi Ghana.

Babak gugur 16 besar diawali Pertandingan antara Kanada melawan Maroko dan Paraguay Versus Prancis (5/7). Kemudian Brasil menghadapi Norwegia dan Meksiko lawan Inggeris(6/7), lalu Portugal vs Spanyol dan Amerika Serikat ditantang Belgia (7/7). Partai lainnya menutup babak 16 besar, masih ditentukan pertandingan antara Argentina vs Tanjung Verde, Australia vs Mesir. Sementara Swiss yang sudah menggegam tiket setelah mengalahkan Aljazair (2-0) masih menunggu hasil pertandingan Kolombia menghadapi Ghana.

Unggul
Dari hitungan di atas kertas, sang juara bertahan Argentina unggul diatas kertas dari Tanjung Verde. Baik skill pemain, pengalaman bertanding dan kematangan, Lionel Messi dkk masih berada diatas dari pemain Tanjung Verde yang telah membuat sejarah, sebagai debutan di Pildun lolos ke fase gugur.
Namun ini adalah sepakbola yang sering diwarnai kejutan. Seperti tim unggulan Jerman, harus tereleminasi oleh Paraguay, di 32 besar lewat drama tendangan adu penalti.

Skuad Tanjung Verde, yang dibesut Pelatih Bubista ini, bermaterikan pemain yang merumput di klub Spanyol, Portugal, Prancis, AS, Turki, Belgia dan Belanda, menghadapi Argentina bermain tanpa beban. Tapi mereka memiliki motivasi menghentikan perjalanan sang juara bertahan di pildun 2026 ini. Inilah tekad para pemain yang ditangani pelatih bertangan dingin Bubista.

Pasukan yang berasal dari Negara Kepulauan berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa ini, akan tampil dengan formasi 4-2-3-1. Menghadapi tim tangguh Spanyol difase penyisihan grup formasi ini yang digunakan Sang Arsitek Bubista. Pemain Spanyol nyaris frustrasi, tidak bisa menembus pertahanan berlapis pemain Verde yang menempatkan hampir semua pemain di daerah pertahanan sendiri, kemudian saat menguasai bola, Ryan Mendes dkk dengan cepat melakukan serangan balik ke daerah lawan.

Rasanya Bubista akan melakukan formasi seperti ini menghadapi Messi dkk yang begitu piawai membongkar pertahanan lawan dengan gerakan ekplosif, Lautaro Martinez, Julian Alvares, yang dibantu De Paul, Mav Allister dan Fernanez dari lini tengah, sementara sang Maha Bintang ,Messi menjadi eksekutor gacor untuk mencetak gol.

Kiper Vozinha yang tampil begitu heroik dan cemerlang menghadapi Spanyol, akan bekerja lebih keras mengawal gawangnya dari gempuran Messi dkk yang memiliki variasi serangan mumpuni didaerah pertahanan lawan.Buktinya mereka begitu produktif di fase penyisihan dengan 8 gol dari gol2 itu, enam gol diantaranya dicetak dari kepiawaian sang Maestro Messi. Hattrick (3) melawan Aljazair, Brace (2) dilesakkan ke gawang Austria dan 1 ke gawang Yordania.

Namun Kiper Vozinha dari Tanjung Verde dalam akun Instagramnya menulis, bahwa duel melawan Argentina adalah sebuah momen yang tidak akan disia siakan oleh timnya.

“Kami sudah siap untuk hal ini. Semua jadi satu, satu bendera, satu detak jantung untuk Tanjung Verde. Dan kami pergi ke lapangan untuk menulis halaman terindah dalam sejarah olahraga dan sejarah negeri kami,” ujar Kiper yang memperkuat klub Chaves Portugal
” Dan Esok (Sabtu,4/7), seolah semua negeri akan ada di dalam lapangan. Karena esok, tidak ada pulau pulau, tidak ada jarak, tidak ada batasan. Esok kita semua adalah satu,” tambah Kiper berusia 40 tahun itu.

Penulis,  Eddy Lahengko, wartawan senior di Jakarta.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan