Bali Tribune / CINDERAMATA - Ketua IKKES Bali, Fredik Billy, SH, MH saat memberikan cindera mata kain tenun Sumba kepada para nara sumber
balitribune.co.id | Denpasar - Tidak dapat dipungkiri warga Sumba yang hidup di Bali mendapat stigma. Untuk itu, Ketua Ikatan Keluarga Sumba (IKKES) Bali, Fredik Billy, SH, MH mengajak seluruh warga Sumba yang ada di Bali untuk mengubah stigma ini menjadi sebuah kepercayaan. Permintaan ini disampaikan Fredik Billy dalam acara Talk Show dengan tema Stigma, Tantangan, dan Solusi. "Komitmen Mewujudkan Kehidupan yang Harmonis Warga Sumba di Bali" di Mapolda Bali, Sabtu (14/2).
"Tema ini tidak ringan. Stigma ini kita ubah jadi kepercayaan," ujarnya.
Meski mendapat stigma yang negatif, namun Fredik Billy menegaskan bahwa banyak warga Sumba turut serta dalam pembangunan di Bali. "Banyak warga Sumba pekerja keras di Bali, sebagian jadi buruh - buruh proyek, adanya juga yang pengusaha dan mahasiswa. Dan IKKES ini tidak hanya sebagai suatu paguyuban keluarga, tetapi jadi jembatan komunikasi. Mari jaga hubungan yang harmonis dengan warga Bali," imbuhnya.
Ketua Flobamora Bali, Herman Umbu Billy mengapresiasi Talk Show yang diselenggarakan oleh IKKES Bali dengan menghadirkan empat Kepala Daerah dari Sumba, yaitu Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Selain Talk Show, pada malam harinya diadakan pementasan budaya Sumba dan Bali.
"Pagelaran budaya Sumba dan Bali ini sesuatu yang baik. Di dunia seni bisa kolaborasi, hal ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari. Kita ke Bali, kita yang harus adaptasi dengan budaya Bali," katanya.
Ketua Forum Fomunikasi Paguyuban Etnis Nusantara (FKPEN) Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Ngurah Agung yang membuka acara Talk Show mengatakan, Bali adalah rumah terbuka bagi siapa saja termasuk warga Sumba. Perantau atau pendatang adalah kemajemukan. Untuk itu, ia mengajak semua pihak menjaga Bali untuk tetap kondusif dan harmonis.
"Jadilah warga yang taat hukum dan menghormati kearifan lokal. Stigma ini tidak perlu tutup mata, ini adalah tindakan individu bukan etnis. Mungkin lebih ditingkatkan pembinaan internal dan Talk Show ini dapat menghasilkan sesuatu yang baik sehingga dapat disosialisi kepada seluruh maayarakat," katanya.
Sementara salah satu narasumber Talk Show, Wakil Bupati Sumba Timur Yonathan Hani, S.Kom, M.AP meminta maaf kepada seluruh warga Bali atas ketidaknyamanan akibat ulah oknum warga Sumba di Bali. Menurutnya, satu orang Sumba yang "sakit" akan berdampak para seluruh Sumba ikutan "sakit". Sebab, orang tidak melihat dari Sumba Timur atau Sumba Tengah atau Sumba Barat atau Sumba Barat Daya tetapi satu Sumba. Sehingga ia mengajak seluruh warga Sumba di Bali untuk selalu berbuat yang terbaik dan tetap bekerja keras.
"Hampir lima puluh persen bangunan di Bali ada sentuhan tangan orang Sumba dan hampir semua mebel di Bali juga ada polesan tangan - tangan orang Sumba. Tetaplah berbuat yang baik. Baru - baru ini saya bertemu dengan orang Bali yang transmigrasi di Sumba Timur dan menjadi transmigrasi yang terbaik seluruh Indonesia, saya bilang, bli bukan orang Bali lagi tetapi sudah menjadi orang Sumba Timur dan saudara kami," ungkapnya.


















































