SHNet, Jakarta- Kebaya bukan sekedar busana tradisional. Di setiap helai kebaya tersimpan cerita tentang keanggunan, kelembutan, kekuatan, dan jati diri perempuan Indonesia. Sebuah warisan budaya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga penuh dengan makna.
“Kebaya adalah simbol kelembutan, kekuatan, kesederhanaan, dan kebanggaan akan budaya bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar finalis Puteri Kebaya DKI 2026 Amira Fakhira Nuraulia (Cilik) Jakarta Selatan 1 ketika berbicara tentang makna kain kebaya di hadapan 20-an anak-anak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bukit Duri Bercerita, dalam acara buka puasa bersama, di Mall Bassura, Jakarta Timur, Rabu (18/03/2026).
Mengenakan gaun kebaya yang anggun, Amira begitu percaya diri dan menguasai hal-ihwal kain kebaya beragam motif yang dikenakan anak-anak TBM Bukit Duri Bercerita. Dijelaskan, bagi siswi SMP Islam Alazar 12 Rawamangun ini menegaskan, melalui kebaya dirinya belajar bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk terus dijaga, dihidupkan oleh generasi muda agar terus dapat diwariskan ke generasi yang mendatang.
“Melalui ajang Putri Kibaya DKI Jakarta 2026, saya ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja untuk melestarikan, memperkenalkan, mempromosikan, serta mencintai kebaya. Advokasi saya adalah Gempitaloka Nusantara, Generasi muda cinta budaya kebaya nusantara. sebuah gerakan untuk menumbuhkan kebanggaan generasi muda dalam mengenal, memakai, dan melestarikan kibaya sebagai identitas budaya Indonesia,” papar Amira.
Amira, kedua dari kiri (mengenakan mahkota) saat memberikan bingkisanAmira yangkini berusia 12 tahun menyatakan, dirinya sebagai gadis cilik percaya bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. “Saya Amira, finalis Putri Kebaya DKI Jakarta 2026. Bersama kita jaga warisan budaya. Bersama kita bangga berkebaya. Karena budaya adalah jati diri bangsa. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ujar Amira menutup orasinya sambil memohon dukungan dan doa untuk kelanjutan kompetisinya di tingkat DKI Jakarta.
Bukber Gembira
Dalam acara buka puasa bersama (bukber) yang berlangsung meriah, anak-anak TBM Bukit Duri yang mengenakan seragam kebaya beraneka motif dan warna, sangat gembira menikmati acara ini. Panitia bukan hanya menghidangkan makanan favourite anak-anak yakni nasi ayam siap saji dan puding, juga ada donat, dan bingkisan untuk dibawa pulang serta tanda mata uang Lebaran.
Makan bersama saat buka puasa“Seneng banget aku dengerin Amira bicara kain kebaya, Aku ingin seperti Amira, pinter, dan cantik berkebaya,” ujar Fika, siswa kelas 4 SD yang kemudian berkenalan dengan Amira dan foto berdua.
Begitu juga kata Alpa, rekannya sesama kelas 4 SD meski beda sekolah. “ Aku jadi tahu pentingnya kain kebaya, karena itu warisan budaya bangsa.”
Pendiri dan Pengelola TBM Bukit Duri Bercerita, Safrudiningsih yang akrab disapa anak-anak dengan panggilan Kak Ning-Nong mengatakan, acara bukber yang diisi dengan penjelasan soal kain kebaya oleh Amira membuka wawasan anak-anak dan generasi seusia Amira.
“Terima kasih telah memberikan ruang dan waktu bagi anak-anak untuk lebih jauh mengenal kain kebaya,” ucap Kak Ning-Nong yang sebelumnya juga mengisi kuis keagamaan sambil menunggu buka puasa. (sur)


















































