KENDARIPOS.CO.ID -- Di tengah gempuran rudal yang mengubah langit Teheran tak lagi seperti dulu. Warga berjuang mempertahankan kewarasan melalui dunia digital dan pelarian ke wilayah yang lebih aman. Meski perayaan Nowruz kini dibayangi duka, harapan untuk bertahan hidup tetap menyala di balik dinginnya salju dan kepulan asap perang.
Ibu kota yang biasanya bising dengan klakson mobil dan keriuhan pasar menjelang musim semi, kini berubah menjadi sepi yang dibalut trauma.
Selasa malam (10/3/2026), alam seolah sedang mengirimkan pesan dualitas yang ganjil kepada penduduknya. Salju tipis turun menyelimuti sudut-sudut kota dengan lapisan putih yang suci, namun di bawahnya, sisa-sisa jelaga hitam dari amukan api perang masih membekas nyata.

Hanya beberapa jam sebelum butiran salju itu jatuh, langit Teheran adalah representasi neraka. Ledakan hebat mengguncang depo-depo minyak utama menyusul bombardir rudal Amerika Serikat dan Israel. Asap hitam pekat membubung, menelan cakrawala, dan mengubah hujan yang turun menjadi tetesan air berwarna kehitaman yang beracun.
Dilansir Inilah.com, Senin (16/3/2026) Jurnalis dan penulis Ikhsan Suryakusumah menggambarkan Kota Teheran mandi jelaga sebelum akhirnya diselimuti putihnya salju. Sebuah ironi visual yang merangkum betapa getirnya hidup di jantung Iran saat ini.
Sejak perang berkobar, warga Teheran tetap masih bisa beraktivitas. Seorang perempuan muda berusia 20-an bernama Sabar mengatakan realitas di luar jendela apartemennya terlalu menyakitkan untuk ditatap.


















































