Bercermin atau Terjebak Obsesi? Kenali Gejala Body Dysmorphic Disorder

1 week ago 12
Ilustrasi

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Bercermin merupakan aktivitas umum dalam kehidupan sehari-hari, dilakukan oleh hampir semua orang untuk memastikan penampilan sebelum beraktivitas. Namun, di balik kaca reflektif itu, tersembunyi risiko psikologis serius apabila dilakukan secara berlebihan dan obsesif.

Fenomena ini kerap dikaitkan dengan gangguan mental bernama Body Dysmorphic Disorder (BDD) kondisi di mana seseorang merasa terganggu secara ekstrem dengan kekurangan fisik yang sebenarnya tidak nyata atau sangat kecil.

Apa Itu BDD dan Bagaimana Terkait dengan Cermin?

Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya merasa penampilannya selalu kurang sempurna. Mereka akan terobsesi menutupi kekurangan tersebut, seringkali dengan bercermin secara berlebihan, bahkan hingga berjam-jam.

Penelitian dalam Behavior Research and Therapy (2001) mencatat bahwa pasien BDD dapat menghabiskan waktu luar biasa lama di depan cermin, bukan untuk merawat diri, melainkan untuk mencari, memeriksa, dan mengkritisi kekurangan mereka.

Dampak Negatif Terlalu Sering Bercermin

Jika dilakukan secara kompulsif, kebiasaan bercermin dapat berdampak negatif terhadap keseimbangan psikologis dan interaksi sosial seseorang. Dilansir dari Jawapos, berikut beberapa dampak yang patut diwaspadai:

1. Memicu Gangguan Mental

Bercermin terlalu lama bisa memperkuat gejala BDD. Penderita menjadi semakin fokus pada "cacat" kecil yang hanya mereka lihat, yang memicu kecemasan, bahkan depresi.

2. Meningkatkan Sifat Sombong atau Butuh Validasi

Beberapa orang bercermin bukan karena merasa kurang, tapi justru karena ingin terus mengagumi dirinya. Hal ini bisa menumbuhkan sikap narsistik dan haus pujian.

3. Mendorong Kebiasaan Membandingkan Diri

Berfokus pada kekurangan sendiri bisa membuat seseorang mudah iri dengan penampilan orang lain. Ini menurunkan kepercayaan diri dan menimbulkan perasaan tidak aman.

4. Menumbuhkan Rasa Benci pada Diri Sendiri

Ketidakpuasan kronis terhadap penampilan membuat seseorang semakin menjauh dari kehidupan sosial dan enggan menunjukkan diri di publik.

5. Mengganggu Fokus dan Produktivitas

Obsesif pada kekurangan fisik bisa menyita perhatian dan waktu. Energi mental yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan, hubungan sosial, atau pengembangan diri jadi terbuang sia-sia.

Tanda-Tanda Kamu Mungkin Mengalami BDD

Berdasarkan International OCD Foundation, berikut gejala umum BDD:

  • Menghabiskan waktu lama bercermin, tapi bukan untuk berdandan melainkan mengkritisi kekurangan.
  • Selalu butuh komentar positif dari orang lain untuk merasa layak.
  • Menyembunyikan bagian tubuh tertentu yang dianggap "jelek".
  • Enggan keluar rumah di siang hari, lebih memilih malam untuk menghindari perhatian.
  • Cenderung melakukan tindakan ekstrem, seperti operasi plastik, hanya demi "memperbaiki" kekurangan.
  • Merasa rendah diri, gelisah, bahkan berpikir untuk bunuh diri karena merasa penampilan tidak cukup baik.

Cara Mengatasi Obsesi Bercermin

Jika kamu merasa kebiasaan bercermin sudah tidak sehat, berikut langkah pencegahan dan penanganan yang bisa dicoba:

  1. Pantau frekuensi bercermin. Catat berapa kali dalam sehari kamu bercermin dan alasan di baliknya.
  2. Fokus pada hal positif. Alihkan perhatianmu ke hal-hal lain yang membangun, seperti hobi, belajar, atau kegiatan sosial.
  3. Terlibat dalam interaksi sosial. Jangan menjauh dari lingkungan karena takut dinilai. Kehadiran orang lain bisa menyeimbangkan persepsi diri.
  4. Olahraga dan makan sehat. Gaya hidup sehat bisa memperkuat tubuh sekaligus memperbaiki citra diri.
  5. Kelola stres. Meditasi, journaling, atau konseling bisa membantu menjaga kesehatan mental.
  6. Terapi profesional. Jika gejala memburuk, terapi kognitif perilaku (CBT) dan bantuan psikiater sangat disarankan.

Bercermin Secukupnya, Bukan Berlebihan

Bercermin bukanlah aktivitas yang salah ia bisa menjadi bentuk perawatan diri dan kontrol penampilan. Namun, jika kamu sudah merasa terikat, tidak tenang tanpa melihat cermin, atau mulai menghindari interaksi sosial karena penampilan, mungkin sudah saatnya mempertanyakan: apakah ini masih sekadar kebiasaan, atau sudah menjadi gangguan?(*)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan