Anak Terlalu Lama Nonton TV? Ini Dampak Nyatanya dan Cara Mengaturnya

1 week ago 12
Ilustrasi

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID--Di era digital ini, televisi dan gadget seolah jadi “penyelamat” di tengah padatnya aktivitas orang tua. Banyak yang akhirnya menjadikan TV sebagai teman bermain si kecil agar orang tua bisa menyelesaikan pekerjaan rumah atau urusan lain.

Namun, terlalu sering membiarkan anak menonton TV ternyata bukan tanpa risiko. Mulai dari gangguan tidur, obesitas, hingga keterlambatan bicara bisa mengintai bila durasinya tidak dibatasi dengan bijak.

Berapa Lama Anak Boleh Menonton TV?

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak di bawah 18 bulan sebaiknya tidak menonton layar sama sekali, kecuali untuk video call keluarga.

Sementara itu, anak usia 2–5 tahun idealnya hanya menonton TV atau layar digital maksimal 1 jam per hari dengan konten edukatif dan pendampingan orang tua.

Durasi ini boleh bertambah saat akhir pekan, tapi tetap disarankan tidak lebih dari 3 jam. Dan yang penting: hindari tayangan sebelum tidur dan saat makan.

Risiko Terlalu Lama Menonton TV pada Anak

Dilansir dari halodoc, berikut beberapa dampak negatif yang bisa timbul bila screen time tidak dikendalikan:

1. Komunikasi Anak Kurang Berkembang

Tayangan televisi bersifat satu arah. Anak hanya menerima informasi tanpa merespons balik, berbeda dengan membaca buku atau bermain bersama orang tua yang memicu interaksi aktif.

2. Risiko Obesitas

Anak yang menonton TV lebih dari 5 jam sehari cenderung ngemil berlebihan dan jarang bergerak. Ini bisa meningkatkan risiko obesitas sejak dini.

3. Gangguan Tidur

Tontonan sebelum tidur, apalagi dari layar ponsel, bisa membuat anak sulit tidur nyenyak. Kurang tidur dapat berpengaruh pada emosi, fokus, dan perilaku anak keesokan harinya.

Tips Bijak Mengatur Waktu Menonton Anak

Meski TV bisa menjadi hiburan dan media belajar, penting bagi orang tua untuk mengatur durasi dan kualitas tontonan anak. Berikut beberapa strategi efektif:

1. Jadwalkan Screen Time

Tetapkan jam menonton secara konsisten. Hindari TV saat makan, bermain aktif, atau menjelang tidur.

2. Dampingi Saat Menonton

Menonton bersama anak memberi kesempatan untuk berdiskusi. Tanyakan hal-hal sederhana untuk mengasah kemampuan berpikirnya.

3. Pilih Tayangan yang Sesuai Usia

Gunakan fitur kontrol orang tua di smart TV atau YouTube Kids untuk memilih konten edukatif yang cocok dengan usia anak.

4. Ajak Anak Aktif di Luar Ruangan

Luangkan waktu untuk bermain di taman, bersepeda, atau sekadar berjalan santai. Aktivitas fisik membantu tumbuh kembang dan menyeimbangkan screen time.

5. Jangan Jadikan TV sebagai “Penawar Rewel”

Saat anak tantrum, hindari memberikan ponsel atau TV sebagai distraksi. Ajak ia bicara, peluk, atau alihkan ke aktivitas lain yang melibatkan interaksi nyata.

Kesimpulan

TV bisa menjadi alat bantu yang berguna, asalkan digunakan dengan bijak. Peran aktif orang tua sangat penting dalam mengarahkan, mendampingi, dan menyeimbangkan waktu layar anak dengan aktivitas lain yang mendukung tumbuh kembang optimal.

Ingat, masa kecil adalah fase emas yang tidak akan terulang. Yuk, manfaatkan waktu bersama anak dengan lebih berkualitas bukan hanya lewat layar!(*)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan