SHNet, Jakarta—Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan, Putu Fajar Arcana adalah tubuh yang menampung banyak bahasa. Ia seorang jurnalis, perupa, pelaku seni pertunjukan, dan sastrawan sekaligus.
“Ia menulis untuk merapikan pikiran, melukis untuk menenangkan jiwa, berpentas untuk menguji gagasan, dan bersastra untuk menjaga kedalaman. Dari sana lahir karya-karya yang bukat sekadar enak dilihat, tetapi menyembuhkan, menuntun, dan menggerakkan,” kata Ahmad Mahendra.
Orasi budaya Ahmad Mahendra itu disampaikan saat penutupan pameran A Solo Exhibition Chromatica by Putu Fajar Arcana, Kamis (21/8/2025) di The Gallery The Darmawangsa Jakarta, yang dibacakan oleh Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal.
Saat penutupan pameran Arcanaartwork mengundang para sastrawan, jurnalis budaya, pelaku budaya, dan pegiat seni, untuk berdialog bersama Andi Syamsu Rijal. Sore dan malam itu menjadi lebih indah ketika penulis Novka Kuaranita, Sasti Gotama, Nawa Tunggal, Devie Matahari, Ari Sumitro, dan Fikar W Edha membacakan puisi. Turut pula memberi testimoni jurnalis senior Seno Joko Suyono, Sarie Febriane, Indah Ariani, dan musisi Ananda Sukarlan.
Menurut Mahendra, sebagai orang Bali, Bli Can (panggilan Putu Fajar Arcana), memahami bahwa seni bukan hiasan, seni adalah tata cara hidup. “Di balik lengkung warna dan ritme kanvasnya, kita bisa merasakan jejaring nilai, Rwa Bineda yang menimbang terang gelap. Ia mengolah duka menjadi cahaya. Inilah lelaku konsisten, rendah hati, tekun, dan penuh cinta,” ujar Mahendra
Dialog
Saat sesi dialog yang dipandu Novka, peserta mempertajam pertanyaan tentang banyak
bidang seni yang ditekuni Bli Can. Bahkan seorang anak muda bernama Elias, mempertanyakan siapakah aku, jika banyak bidang yang ditekuni.
Dengan mengambil metafora kehidupan seorang petani, Bli Can menegaskan, bahwa para petani di desa tidak pernah berhitung soal hasil. Mereka bekerja dengan menanam, merawat dengan tekun, dan hasilnya tidak saja berupa panen, “Tetapi keindahan. Para petani tidak pernah berpikir tentang membuat pemandangan indah saat menanam, merawat, dan memelihara sawah dan padi-padi di Jatiluwih. Kini banyak wisatawan menikmati keindahan pemandangannya,” katanya.
Begitulah seorang pekerja, tambah Bli Can, dalam menuntas seluruh pekerjaannya. Seni adalah sawah yang harus ditanami dan dirawat dengan gagasan dan kreativitas. Tidak perlu memikirkan hasil, “Bahwa nanti menjadi puisi, cerpen, novel, drama, atau lukisan, itu buah dari totalitas kerja dan kreativitas,” tegas Bli Can
Pembukaan
Pembukaan pameran A Solo Exhibition Chromatica by Putu Fajar Arcana, dilaksanakan pada Sabtu (16/8/2025) di Pool Garden, The Dharmawangsa, oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. Puspa mengatakan, pameran Chromatica tak hanya penting bagi dunia seni, tetapi turut serta membentuk ekosistem budaya, yang dibutuhkan oleh dunia pariwisata.
Industri pariwisata semakin hari terus bergerak menuju pada pariwisata dengan minat khusus seperti art tourism. “Dan seni menjadi motor penggerak wisatawan untuk bepergian ke satu tempat tertentu. Semakin banyak festival, semakin banyak pameran, akan semakin menarik bagi wisatawan,” ujar Luh Puspa.
Saat pembukaan pameran, juga digelar happening art bertajuk “Tubuh Bertumbuh: Dukkha-Daya-Cahaya” yang menampilkan Sha Ine Febriyanti, Joane Win, dan Try Anggara. Naskah yang dutulis Angelina Arcana ini, secara khusus merespons babakan seni rupa yang dilalui ayahnya selama 2 tahun terakhir. Pameran berlangsung, 17-21 Agustus 2025 di The Gallery The Dharmawangsa Jakarta.
“Berangkat dari Dukkha, yakni penderitaan, lalu bergerak memberdayakan diri lewat meditasi dan kontemplasi, sampai akhirnya menemukan cahaya, berupa lukisan-lukisan yang penuh makna,” tutur Angel.
Babakan-babakan dalam pentas dan lukisan, menurut Angel, mencerminkan pencarian ayahnya menuju penyembuhan batin. “Seni adalah media paling asyik untuk melakukan healing,” kata putri sulung Bli Can ini.
Menurut Putu Fajar Arcana karya-karya yang ditampilkannya merupakan hasil proses healing yang ia jalani sejak 2 tahun terakhir. Ia pernah berada pada titik terendah dalam hidupnya, sehingga mengalami luka batin. Putu bahkan sempat harus berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari kesembuhan. Secara kebetulan pada akhir 1990-an, ia pernah belajar melukis pada maestro seni rupa Made Wianta. Psikolognya menyarankan agar kemampuannya melukis terus dikembangkan untuk perlahan-lahan mengikis luka batin, dan menemukan keseimbangan hidup.
Lapis-lapis warna yang muncul dalam kanvas-kanvas Putu, ibarat cahaya yang membangkitkan gairah menuju ketenteraman hidup. “Efek warna memberi saya perasaan rileks dan kemudian menenangkan,” kata Putu di sela-sela ruang pameran. Pameran dan pementasan terwujud berkat kerja sama lintas lembaga, yakni Arcanaartwoks, The Dharmawangsa, Bakti Budaya Djarum Foundation, serta dukungan dari Sababay dan Sango Ceramics.

Menurut Tiga Sei Karya
Menurut Kurator Pameran Chromatica Trianzani Sulshi, pameran ini menampilkan tiga seri yang masing-masing merupakan tahapan pencarian spiritualitas pelukisnya. Pertama, karya-karya yang disebut “Mysterious Garden” ditandai dengan pertanyaan besar pelukisnya:
kemana manusia setelah mati? Apakah takdir hidup bisa diubah? Putu menampilkan karya-karya yang bercirikan seperti taman, kupu-kupu yang berterbangan, serta perempuan berpayung yang sedang berjalan menjauh.
“Semua elemen itu hadir secara simbolik. Taman, representasi dari semesta yang memberi dan mencukupi apa pun kebutuhan manusia. Lalu kupu-kupu adalah simbol metamorfosa, yang melebihi kemampuan manusia. Dan terakhir, perempuan berpayung tanda bahwa selama perjalanan menuju takdir, manusia hanya bisa memayungi diri. Selalu bersiap untuk segala kemungkinan,” kata Trianzani.
Pada seri kedua, tambah Trianzani, Putu melukis perjalanan para biksu untuk menempa diri. Seri ini diberi nama “Spiritual Journey”, dengan ciri utamanya selalu terdapat drawing para biksu yang berjalan membelakangi bidang depan kanvas.
Penggambaran punggung para biksu, kata Trianzani, memberi kesan spiritual yang mendalam. Meskipun hanya tampak bagian punggung, gestur para biksu memberi kesan yang khusyuk dan tepekur di dalam menjalani laku spiritual. “Dalam tradisi di Thailand dan Myanmar laku ini disebut dengan thudong, satu laku perjalanan spiritual untuk melatih kesabaran dan ketekunan, sebelum akhirnya mencapai kesadaran,” ujar Trianzani.
Seri ketiga disebut Yin-Yang, di mana pelukis menggunakan bidang kanvas bundar yang dibagi menjadi dua bagian. Teknik pembagian bidang gambar ini, mengingatkan pada simbol Yin-Yang, yang ditandai dengan warna hitam dan putih. Putu kemudian mengeksplorasi teknik melukis fluid art dan dorongan angin untuk mencapai bentuk-bentuk artistiknya.
Tiga seri karya itu, tambah Trianzani, menjadi simpul penting dalam pencarian spiritual Putu Fajar Arcana. Ia mempertanyakan takdir kehilangan yang pernah menderanya, sebagai renungan pertama-tamanya. Meskipun menemukan jawaban, bahwa semesta telah memberi begitu besar untuk kelangsungan hidup manusia, ia tetap tak berhenti bertanya. Apakah pendalaman spiritual, seperti laku para biksu, akan memberi jawaban tentang takdir hidup manusia?
Pada akhirnya seluruh pertanyaan itu menemukan muaranya pada keseimbangan antara body, mind, and soul. Dalam terminologi filsafat Timur, keseimbangan antara makrokosmos (alam semesta) dengan mikrokosmos (diri manusia). Dalam filosofi Jawa dan Bali disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, bersatunya diri dengan Sang Maha Pencipta.
Menurut Putu Fajar Arcana, lukisan-lukisan yang ia kerjakan seperti pijaran emosi yang campur aduk. Oleh sebab itu, ia merasa emosinya yang teraduk-aduk itu “hanya” bisa diwakili oleh pola-pola abstrak. “Karena akan lebih bebas. Seni abstrak mampu menampung ledakan emosi dalam sesaat. Dan warna adalah wujud konkret dari kondisi kebatinan itu,” kata Putu.
Melukis bagi Putu, seperti pembebasan diri dari beban batin yang menindas. Beban ini belum tentu bisa dikeluarkan dengan menulis, yang selama ini menjadi aktivitasnya. “Selesai melukis biasanya saya lebih merasa plong, terbebaskan, ada rasa ringan di dada,” katanya.
Meskipun banyak membaca mengenai art therapy, pada praktiknya Putu menggunakan seni untuk dua tujuan sekaligus. Satu sisi, ia ingin membebaskan diri dari rasa duka atas kehilangan, sisi lain ia ingin menggapai bentuk-bentuk artistik sesuai rasa indahnya.
“Saya juga ingin bahwa seni yang saya hasilkan memiliki makna dan memancarkan rasa indah di hati semua orang. Sebab saya yakin keindahan selalu memancarkan kedamaian juga pada setiap orang,” tutur Putu yang juga jurnalis senior ini.
Project Manager Chromatica Angelina Arcana mengatakan Putu melakukan proses melukis seperti seseorang yang sedang bekerja di kantor. Ia masuk ke studionya pada pagi hari, lalu istirahat untuk makan siang, setelah itu kembali bekerja sampai sore hari. Mekanisme jam kerja semacam ini mengingatkan pada masa-masa pelukis aktif sebagai jurnalis di Harian Kompas Jakarta.
“Pelukisnya sangat disiplin dan mengerti benar mengelola waktu, sehingga dalam waktu 2 tahun telah menghasilkan puluhan lukisan. Tidak semua dipamerkan dalam Chromatica, karena petimbangan tempat,” ujar Angelina.
Menurut Angelina, karya-karya dalam Chromatica, merupakan buah dari proses healing, kesabaran, ketekunan, dan disiplin yang tinggi. “Pelukisnya memperlakukan melukis sebagai kerja keseharian, seperti kalau kita butuh minum atau makan. Itu sih yang keren…” katanya.
Hariadi Jasim dari The Dharmawangsa Jakarta berharap The Gallery di hotel itu akan lebih produktif di masa mendatang. “Sudah lama ruang galeri belum difungsikan maksimal. Semoga pameran Chromatica ini jadi awal yang baik menuju pameran-pameran berikutnya,” katanya. (sur)