Seni untuk “Healing”: Penulis Pameran Lukisan

2 weeks ago 21

SHNet, Jakarta-Penulis Putu Fajar Arcana menggunakan aktivitas melukis sebagai metode healing bagi batinnya yang luka. Tumpahan cat dan warna-warna yang berpendar di atas kanvas, telah membuatnya seperti memasuki alam meditasi. Proses melukis membimbingnya menjadi lebih rileks dan perlahan menemukan ketenteraman. Penulis senior itu kini siap memamerkan puluhan karya terbarunya.

Lukisan-lukisan hasil healing selama 2 tahun terakhir ini, akan dipamerkan dalam A Solo Exhibition Chromatica, 17-21 Agustus 2025 di The Gallery, The Dharmawangsa Jakarta.

Sedangkan pembukaan pameran akan digelar, Sabtu (16/8/2025), pukul 18.00 WIB, dan akan diisi dengan pertunjukan teater “Tubuh Bertumbuh: Dukkha-Daya-Cahaya”. Pameran ini dikuratori oleh Trianzani Sulshi, seorang arsitek muda yang banyak menjadi kurator dalam berbagai pameran dan pementasan seni.

Pentas teater akan menampilkan aktris Sha Ine Febriyanti, Joane Win, dan penari Try Anggara. Ketiganya akan berkolaborasi dengan memainkan naskah karya Angelina Arcana. Pertunjukan ini menggabungkan seni sastra, teater, tari, seni rupa. Pameran ini terselenggara berkat kerja sama Arcanaartworks, The Dharmawangsa, dan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Menurut Project Manager Chromatica, Angelina Arcana, proyek seni ini memang berniat memadukan antara sastra, teater, tari, dan seni rupa. Meskipun, katanya, seni rupa akan menjadi presentasi yang paling menonjol.

“Kebetulan pelukisnya, selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis fluid art, yang dianggap mampu mengalirkan kegundahan batinnya. Teknik ini sebenarnya seperti art moment, seni yang tidak bisa diduplikasi. Ia hanya terjadi pada momen tertentu dan karena itu sangat dekat dengan kondisi kebatinan senimannya,” ujar Angel, Rabu (13/8/2025) di Jakarta.

Putu Fajar Arcana konsentrasi saat melukis

Puluhan Karya

Angel menambahkan pameran tunggal “Chromatica” Putu Fajar Arcana akan menampilkan 34 karya dalam periode dua tahun terakhir. Karya-karya terdahulu, yang ia kerjakan pada periode 2022-2023 tidak turut ditampilkan karena alasan teknis artistik.

“Kita akan tampilkan lukisan-lukisan yang diciptakan pada periode 2024 dan 2025, karena pada fase inilah pelukisnya merasa perlahan menuju kesembuhan dan menemukan jalan kesenirupaan yang berbeda,” kata Angel.

Menurut Putu Fajar Arcana, kata “chromatica” dinilai mampu mewakili pencariannya dalam dunia seni rupa. Warna-warna, sesungguhnya tercipta dari satu gelombang cahaya yang dipantulkan oleh sumber cahaya. “Ini hukum yang dicetuskan oleh Isaac Newton, di mana setiap warna tercipta tergantung dari panjang pendeknya gelombang,” ujar Putu.

Seniman yang kini bertransformasi dari penulis ke pelukis ini, menempatkan warna sebagai wujud nyata dari gelombang cahaya. “Dan warna itu terpadatkan lewat lukisan. Karena itu, lukisan bersumber dari cahaya yang dibutuhkan dalam proses healing,” katanya.

Saat melukis, Putu melakukan proses yang berbeda dibandingkan dengan proses melukis pada umumnya. Ia sama sekali tidak menggunakan kuas sebagai alat utama dalam melukis.

Pelukis yang juga sutradara teater ini, menggunakan tiupan angin, panas api, dan tumpahan air untuk membentuk lapis demi lapis warna di atas kanvas.

Oleh sebab itu, ia menyebutnya karya-karyanya tercipta dengan mengeksplorasi elemen- elemen alam. “Dan itu sangatlah dekat dengan meditasi, di mana kita menyadari keberadaan kita sebagai makhluk di tengah-tengah semesta yang maha besar ini. Penyadaran diri ini penting dalam proses healing,” ujar Putu.

Putu Fajar Arcana

Hariadi Jasim dari The Dharmawangsa Jakarta berharap agar pameran “Chromatica” menjadi penanda bahwa hotel di wilayah selatan Jakarta itu, menjadi pusat pengembangan kebudayaan. “Hotel ini juga didesain dengan memadukan unsur-unsur budaya Jawa dan Barat. Semoga perpaduan itu menjadi rumusan penting dalam pencapaian kebudayaan modern Indonesia,” ujarnya.

Menurut Angel, selama pameran berlangsung akan digelar beberapa aktivitas seperti artist tour dan art for healing. Saat artist tour, pelukis akan menarasikan proses penciptaan pada setiap lukisan, termasuk berbagai pengalaman spiritual yang menyertainya. Para peserta aktivitas ini akan dijaring melalui akun Instagram: @arcanaartwoks. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan