Pascagempa NTT, Wisman Alihkan Liburan ke Bali

13 hours ago 9

Kunjungan wisatawan

Bali Tribune / WISATAWAN - Kunjungan wisatawan mancanegara di salah satu objek wisata di Bali.

balitribune.co.id I Denpasar - Pengelola hotel di Nusa Tenggara Timur (NTT) akui adanya pembatalan wisatawan asing yang berlibur ke destinasi wisata di NTT pascagempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 di wilayah NTT pada 15 Agustus 2026 lalu. 

Pihak hotel pun menyarankan calon wisatawan mancanegara (wisman) tersebut untuk mengalihkan destinasi liburan dari yang awalnya akan ke NTT dialihkan ke Bali. 

Commercial Director Sudamala Resorts, Wayan Suwastana mengatakan, akomodasi wisata berupa resor di wilayah NTT yang dikelolanya tersebut tidak terdampak gempa karena kondisi bangunan yang kokoh.

Masyarakat di sekitar resor kata dia terkena dampak dari gempa bumi tersebut yang membuat para wisatawan saat itu masih menginap memutuskan untuk tetap berada di dalam resor. 

Ia menuturkan, saat gempa, okupansi atau tingkat hunian kamar di resor tersebut dalam keadaan penuh atau 100 persen. Mengingat bertepatan dengan libur musim panas bagi warga negara dari Eropa. 

"Kita punya standar operasional untuk keadaan emergency. Jadi tim kita sudah dilatih kalau ada kondisi darurat seperti gempa bumi. Kita sudah siap siaga untuk itu," katanya di Sanur, Denpasar, Sabtu (22/8/2026).

Wayan Suwastana menuturkan, prosedur yang dilakukan saat terjadi gempa yakni memastikan keamanan tamu/wisatawan dan karyawan. Selain itu memberikan informasi yang akurat kepada wisatawan yang menginap.

"Berikutnya adalah memang di hotel tidak terdampak namun masyarakat di sekitar hotel yang terdampak. Tentunya tamu kita tenangkan. Kami sampaikan prioritas dari hotel adalah keamanan tamu dan karyawan. Itu membuat tamu tenang karena lagi berlibur jadi ingin kepastian (informasi yang akurat) mengenai kondisi ini. Karena hotel tidak terdampak jadi tamu tenang dan berhasil melanjutkan menginap. Namun ada beberapa tamu yang belum sampai di sana (NTT) tapi sudah menyampaikan takut. Tidak sampai 5 persen yang membatalkan tapi kami tawarkan hotel kami di tempat lain seperti di Bali," bebernya. 

Kata dia, prosedur penanganan dalam kondisi darurat itu diterapkan di resor atau hotel. "Kita punya tim untuk menangani situasi emergency. Apalagi saat gempa itu momen musim panas hotel penuh okupansi 100 persen. Saat kejadian gempa, tamu yang menginap dari Eropa lebih banyak dan Australia karena Agustus adalah season holiday hampir dari seluruh dunia liburan," katanya. 

Ia menambahkan, lama tinggal wisatawan di NTT khususnya di Labuan Bajo rata-rata 3 sampai 4 malam. Saat gempa, wisatawan yang menginap tidak memperpendek lama tinggalnya karena percaya pada penanganan emergency tim di resor tersebut.

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan