Dari Tangan Kecil untuk Bumi: Leo Club Jakarta Kharisma Ajak Anak-Anak Mengenal, Memilah, dan Mengolah Sampah dalam “Environment Week”

5 hours ago 7

Oleh: Jonathan Elbert Chandra

SHNet, Jakarta- Menjaga bumi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan justru tumbuh dari tangan-tangan kecil yang sejak dini belajar memahami bahwa lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Semangat itulah yang dibawa Leo Club Jakarta Kharisma dari District 307A1 dalam sebuah kegiatan edukasi lingkungan yang digelar di TBM Bukit Duri Bercerita, Jakarta, Sabtu (12/09/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Environment Week tersebut mempertemukan hampir 50 anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah dalam sebuah pembelajaran yang memadukan literasi, permainan edukatif, dan praktik langsung pengelolaan limbah.

Dipimpin oleh Gabriella Grecia Liano, kegiatan ini melibatkan 13 anggota Leo Club Jakarta Kharisma. Inisiatif tersebut juga mendapat dukungan dari para Lions, termasuk Wakil Ketua Komite Environment, Lion Yuli Nogeti, serta Lions Club Jakarta Gading Cemara.

“Terus terang, saya bangga sekali melihat semangat anak-anak di TBM Bukit Duri Bercerita. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Melalui literasi, permainan memilah sampah, dan praktik membuat eco-enzyme, tangan-tangan kecil mereka membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari solusi. Usia bukan batas untuk berkontribusi bagi bumi yang kita cintai,” ujar Lion Yuli Nogeti.

Lion Geti, Lion Ning & Grecia memperkenalkan berbagai tipe sampah kepada anak-anak di TBM Bukit Duro Bercerita, Sabtu (12/09/2026).

Bagi para penyelenggara, pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada ajakan untuk “menjaga kebersihan”. Anak-anak perlu diberikan pemahaman mengenai mengapa lingkungan harus dijaga, bagaimana tindakan sederhana dapat dilakukan, serta bagaimana kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan yang lebih besar.

Kegiatan diawali dengan program literasi. Anak-anak diajak membaca dengan suara lantang berbagai fakta dan materi dari majalah yang membahas bumi serta cara melindungi lingkungan. Sesi ini dirancang untuk membuka wawasan mereka mengenai persoalan lingkungan sekaligus membangun keberanian untuk membaca, berbicara, dan berbagi pengetahuan bersama teman-temannya.

Suasana kemudian berubah menjadi lebih interaktif ketika hampir 50 peserta dibagi menjadi empat tim. Mereka mendapatkan tugas untuk mengenali dan memilah berbagai jenis sampah melalui gambar-gambar ilustratif. Setiap gambar harus ditempatkan ke dalam kategori tempat sampah yang tepat: organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan residu.

“Dari kegiatan ini, kita belajar bahwa sampah bukan sekadar limbah. Ada sampah organik, nonorganik, B3, dan residu yang perlu kita kenali dan kelola dengan tepat,” ujar Gabriella Grecia Liano.

Permainan tersebut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan konsep pemilahan sampah kepada anak-anak. Apa yang tampak sebagai permainan sebenarnya merupakan latihan untuk membangun kebiasaan yang kelak dapat diterapkan di rumah, sekolah, maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

“Dengan melibatkan 13 anggota Leo Club dan hampir 50 anak dalam Environment Week ini, kami mendapat pengalaman yang luar biasa. Para Leo tidak hanya mengajak anak-anak menjaga kebersihan, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana menjaga lingkungan agar lebih nyaman, bersih, sehat, dan lestari,” kata Yuli Nogeti.

Keseruan anak-anak di dalam permainan untuk mengenali dan memilah sampah.

Namun, pembelajaran tidak berhenti pada memilah sampah.

Pada sesi terakhir, setiap tim diajak membuat eco-enzyme dengan memanfaatkan sisa kulit buah. Anak-anak diperkenalkan pada gagasan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah masih dapat memiliki nilai dan manfaat apabila dikelola dengan cara yang tepat.

“Tidak semua sampah itu buruk. Dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, sampah organik bahkan dapat menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat,” kata Grecia.

Melalui praktik tersebut, pesan tentang keberlanjutan menjadi lebih nyata. Anak-anak tidak hanya mendengar tentang pengurangan sampah dan pemanfaatan kembali bahan organik, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sisa makanan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Lebih dari sekadar kegiatan sehari, program ini membawa sebuah pesan yang sederhana namun penting: usia bukan batas untuk mulai berkontribusi terhadap lingkungan.

Dari tangan kecil, kita dapat memulai perubahan besar. Prinsip tersebut menjadi semangat yang mendasari keterlibatan Leo Club Jakarta Kharisma dalam Environment Week. Anak-anak tidak ditempatkan hanya sebagai penerima edukasi, melainkan sebagai bagian dari solusi. Dengan memberikan pengetahuan dan pengalaman sejak dini, mereka diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih sadar terhadap konsekuensi dari setiap tindakan mereka terhadap lingkungan.

Bagi gerakan Leo dan Lions, kegiatan ini juga mencerminkan makna pelayanan yang tidak hanya berorientasi pada aksi sesaat, tetapi pada upaya membangun kesadaran yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Ketika seorang anak mulai memahami bahwa sampah harus dipilah, sisa makanan dapat dimanfaatkan, dan bumi perlu dijaga, sebuah kebiasaan baru telah mulai terbentuk.

Dan dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah perubahan yang lebih besar dapat tumbuh.

Kegiatan di TBM Bukit Duri Bercerita menjadi pengingat bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan sumber daya yang besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai, keberanian untuk mengajak orang lain, dan kesediaan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi lintas generasi dapat menghadirkan ruang belajar yang bermakna bagi anak-anak.

Sebab, masa depan lingkungan bukan hanya ditentukan oleh keputusan besar yang dibuat hari ini. Ia juga dibentuk oleh tangan-tangan kecil yang belajar, sejak sekarang, untuk memperlakukan bumi dengan lebih baik.

Anggota Leo Club Jakarta Kharisma yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah Benedict Hubert Chandra, Cecillia Sosrodjojo, Celine Florencia Phandana, Cheryl Videline Gunawan, Devin Thendisetiadi, Gabriella Grecia Liano, Jayden Kusuma, Jonathan Elbert Chandra, Louis Alexandrio, Louisa Soetanto, Sherren Anabel Budianto, Steven Maxwell Phandana, dan Wilson Prawira. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan