SHNet, Jakarta-Memasuki usia dua tahun, banyak orang tua mulai menghadapi fase baru dalam perjalanan tumbuh kembang anak. ASI yang sebelumnya menjadi salah satu sumber asupan penting sudah benar-benar berhenti, sementara anak justru semakin aktif bergerak, bermain, dan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
Pada fase ini, tantangan lain bisa muncul: anak mulai pilih-pilih makanan, susah makan, bahkan melakukan gerakan tutup mulut (GTM). Tak jarang, orang tua akhirnya merasa cemas karena makanan yang sudah disiapkan dengan baik justru hanya disentuh atau bahkan ditolak.
Padahal, di tengah fase tersebut, kebutuhan gizi anak tetap harus terpenuhi. Bukan hanya jumlah makanan yang perlu diperhatikan, tetapi juga kandungan zat gizi di dalam setiap asupan yang diberikan.
Salah satu hal yang dapat menjadi perhatian orang tua adalah memastikan anak mendapatkan zat gizi penting yang mendukung tumbuh kembangnya, antara lain IronC (zat besi dan vitamin C), minyak ikan sebagai sumber DHA serta Omega 3 dan 6, protein ganda, kalsium, vitamin D, serta zinc.
Kenapa Zat Besi dan Vitamin C Penting? Salah satu kombinasi zat gizi yang perlu diperhatikan adalah IronC, yaitu kombinasi zat besi dan vitamin C dengan rasio khusus yang membantu meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat.
Zat besi sendiri merupakan salah satu mikronutrien penting bagi tumbuh kembang anak, termasuk mendukung fungsi kognitif. Sementara vitamin C membantu penyerapan zat besi sehingga tubuh dapat memanfaatkannya dengan lebih optimal.
Karena itu, ketika anak mulai memasuki usia dua tahun dan kebutuhan gizinya semakin kompleks, orang tua perlu lebih cermat melihat sumber asupan yang diberikan. Termasuk ketika memilih susu.
Susu memang bukan satu-satunya sumber gizi anak. Namun, bagi sebagian keluarga, susu masih menjadi bagian dari pola makan sehari-hari, terutama ketika anak sedang mengalami fase susah makan. Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu memperhatikan kandungan nutrisi dalam susu yang diberikan, bukan sekadar melihat apakah anak menyukai rasanya.
Pastikan produk yang dipilih mengandung zat gizi yang mendukung kebutuhan anak, seperti zat besi, vitamin C, DHA dan asam lemak Omega 3 dan 6, protein, kalsium, vitamin D, serta zinc.
Dengan begitu, ketika anak sedang tidak berselera makan atau hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, orang tua tetap memiliki perhatian ekstra terhadap kecukupan zat gizi hariannya.
Tantangan Berlanjut Ketika Anak Memasuki Usia Sekolah
Perhatian terhadap asupan gizi tentu tidak berhenti ketika anak melewati usia balita. Memasuki usia sekolah, anak justru semakin banyak memiliki kesempatan untuk memilih makanan sendiri.
Ada jajanan di sekitar sekolah, makanan yang ditawarkan teman, hingga berbagai makanan dan minuman manis yang mudah ditemukan. Karena itu, memastikan anak makan sampai kenyang saja tidak lagi cukup.
Jenis makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Orang tua perlu membiasakan anak mengonsumsi makanan yang beragam, dengan sumber protein, sayur, dan buah, sekaligus membatasi makanan serta minuman tinggi gula. Anak juga perlu dibekali kemampuan sederhana untuk mengenali mana makanan yang baik untuk tubuh dan mana yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi.
Hal ini sejalan dengan pentingnya edukasi gizi di lingkungan sekolah. Dalam perayaan 10 tahun Nutrition Goes to School (NGTS) di Jakarta, Minggu (23/8), Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin mengatakan sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan makan sehat pada anak.
Menurut Tatang, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran akademik, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai gizi.
“Hal yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini terkait ada kekurangan gizi di anak-anak, juga ada yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi ini bagian penting yang ingin kita respon melalui sekolah sebagai agen perubahan,” kata Tatang.
Menurutnya, edukasi gizi di sekolah perlu diarahkan agar anak mampu mengenali dan memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhannya, termasuk menghindari makanan yang mengandung gula dan garam secara berlebihan.
Jangan Sampai Anak Salah Mengenali Produk Pangan
Kebiasaan makan sehat juga perlu dibangun dengan memberikan pemahaman yang benar mengenai berbagai produk pangan yang dikonsumsi anak. Salah satu yang masih menjadi perhatian adalah susu kental manis yang hingga kini masih dianggap sebagai susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap 2.150 orang tua balita menunjukkan 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.
Padahal, menurut pakar gizi IPB University dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi. Produk tersebut dibuat dengan mengurangi kandungan air dalam susu, kemudian menambahkan gula dalam jumlah besar yang dapat mencapai sekitar 40–50 persen.
Dalam setiap takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, kandungan gulanya dapat mencapai sekitar 15 gram. “Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujar Karina.
Sebagai gambaran, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan sekitar 50 gram. Artinya, konsumsi kental manis secara berulang dalam sehari dapat dengan cepat menambah asupan gula anak.
Karena itu, ketika orang tua memilih produk yang diberikan kepada anak, jangan hanya terpaku pada rasa yang disukai anak atau anggapan bahwa semua produk yang menggunakan kata “susu” otomatis memiliki fungsi yang sama.
Bagaimana Membantu Anak Mendapatkan Gizi yang Cukup?
Menghadapi anak yang susah makan memang membutuhkan kesabaran. Orang tua tidak harus memaksa anak menghabiskan makanan dalam satu waktu, tetapi dapat berfokus pada kualitas dan keberagaman asupan sepanjang hari.
Beberapa kebiasaan berikut dapat diterapkan:
1. Sajikan makanan beragam
Usahakan menu anak terdiri dari sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, serta sumber lemak yang sesuai kebutuhan.
2. Pastikan ada sumber protein
Telur, ikan, ayam, daging, tahu, dan tempe dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan protein anak.
3. Perhatikan mikronutrien
Selain protein dan energi, zat besi, vitamin C, zinc, kalsium, vitamin D, serta DHA dan asam lemak Omega 3 dan 6 juga perlu menjadi perhatian dalam pola makan anak.
4. Jika memilih susu, baca kandungannya
Jangan memilih susu hanya berdasarkan rasa atau kemasan. Perhatikan kandungan zat gizi dan sesuaikan dengan kebutuhan anak.
5. Batasi makanan dan minuman manis
Biasakan anak mengenal air putih sebagai minuman utama dan tidak menjadikan makanan manis sebagai bagian dari menu sehari-hari secara berlebihan.
6. Bekali anak sebelum berangkat sekolah
Sarapan atau membawa bekal dapat membantu orang tua mengontrol pilihan makanan anak, sekaligus mengurangi ketergantungan pada jajanan tinggi gula.
7. Jadikan orang tua sebagai contoh
Anak belajar dari kebiasaan di rumah. Jika orang tua terbiasa memilih makanan bergizi dan tidak berlebihan mengonsumsi makanan manis, anak akan lebih mudah mengikuti.


















































