ALTRUIS/URUB, Refleksi Cinta kepada Nusantara

4 weeks ago 33

SHNet, Tangerang– Kita hidup di era yang melaju cepat—modern, penuh gemuruh kompetisi, dan haus akan konsumsi tanpa henti.

Dalam hiruk-pikuk ini, manusia sering lupa; mengejar kebahagiaan yang tak berujung, menggenggam dunia tanpa jeda. Namun, tidakkah kita lupa bahwa kebahagiaan sejati bukanlah soal memiliki, melainkan memberi?

Di balik harmoni kehidupan, ada cerita tentang pengorbanan. Bumi kita asri dan lestari bukan karena kerakusan, tetapi karena kerelaan makhluk hidup untuk menyerahkan sebagian dirinya, demi yang lebih besar.

“Kami mungkin belum bisa menjadi seperti seorang ibu, tetapi melalui kolaborasi dengan para pengrajin, kami ingin menyalakan cahaya bagi ekosistem budaya kain tradisional di Indonesia. Inilah harmoni antara tangan, hati, dan jiwa,” ujar Thresia Mareta, Pendiri LAKON Indonesia.

Koleksi Altruis/Urub hadir sebagai bentuk dedikasi LAKON kepada budaya dan kerajinan tekstil Indonesia. Di ajang JF3 2025, Sumarecon Serpong Mall, Rabu (30/07/2025), Lakon Indonesia bersama dengan desainer muda Prancis, Victor Clavelly dan seniman CGI Héloïse Bouchot menghadirkan koleksi Urub.

(Dokumentasi JF3 Sumarecon Serpong Mall)

Siluet-siluet yang menampilkan estetika kontemporer yang berpadu dengan filosofi mendalam, membuktikan bahwa warisan budaya bisa terus hidup dalam bingkai yang modern dan relevan.

Seorang ibu bertaruh nyawa saat melahirkan. Seluruh hidupnya menjadi catatan tentang cinta yang tidak egois, tentang pengorbanan yang membangun kehidupan baru. Dalam dirinya, tersimpan pesan mendalam tentang altruisme—sebuah kodrat yang bersemayam di setiap gen makhluk hidup.

Alam pun berbicara dalam bahasa yang sama. Letusan gunung yang mengguncang bumi tidak hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang awal yang baru. Dari debu dan lahar, tumbuh ekosistem hijau yang subur, penuh kehidupan.

Begitulah alam semesta menunjukkan bahwa pengorbanan adalah bagian dari tarian abadi penciptaan.

Jauh di luar sana, supernova meledak, menyerahkan dirinya, agar elemen-elemen kehidupan tercipta.

Dari ledakan itu lahir galaksi, tata surya, dan akhirnya sebuah planet kecil bernama Bumi—tempat kita bernafas dan bermimpi.

Di Nusantara, kebijaksanaan ini telah lama tertanam. Seperti yang diabadikan Sunan Kalijaga melalui kata-kata Semar yang bijak: “Urip iku urub.”

Hidup itu menyala. Hidup itu menerangi, menghidupi. Hidup adalah tentang menjadi terang bagi sesama, tentang memberi manfaat bagi dunia. Inilah yang menjadi inti koleksi ini.

URUB adalah nyala besar yang kami harap dapat menerangi. Setiap helai adalah hasil dari perjalanan panjang penuh pemikiran, dedikasi, dan cinta. Di dalamnya, ada kisah para pengrajin batik—pengorbanan dan seni mereka yang tak terukur nilainya.

“Altruis/Urub adalah refleksi cinta kami kepada Nusantara, sebuah dedikasi yang lahir dari semangat semesta. Kami mungkin belum bisa menjadi seperti seorang ibu, tetapi melalui

kolaborasi dengan para pengrajin, kami ingin menyalakan cahaya bagi ekosistem budaya kain tradisional di Indonesia. Inilah harmoni antara tangan, hati, dan jiwa. Inilah URUB,” tutur Thresia.

Sementara itu, Victor Clavelly, yang sebelumnya telah bekerja dengan figur-figur besar seperti Rick Owens, Katy Perry, FKA Twigs, hingga Beyoncé, membawakan koleksi bertajuk “Les Fragments”.

Lewat pendekatan desain modular, skulptural, dan eksperimental, koleksi ini menampilkan narasi yang kuat dengan dukungan teknik 3D printing mutakhir.

Kehadiran Clavelly dan Bouchot menjadi penanda bahwa Indonesia — melalui ajang seperti JF3 dan rumah mode seperti LAKON — mulai memainkan peran penting dalam percakapan global tentang fashion yang sadar budaya, berkelanjutan, dan melampaui batas-batas geografis. (Stevani Elisabeth)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan