Teguh Setiawan dari IMDE Dorong Siswa SMK Manfaatkan AI sebagai Kolaborator Kreativitas

22 hours ago 15

SHNet, Jakarta-Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia industri kreatif dan produksi konten. Di tengah perkembangan tersebut, generasi muda dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kepekaan dalam menghasilkan karya.

Pesan tersebut disampaikan Teguh Setiawan, S.Pd., M.I.Kom., Ketua Program Studi Produksi Media Institut Media Digital Emtek (IMDE), saat menjadi narasumber dalam workshop bertajuk “AI & Kreativitas: Kolaborasi, Bukan Kompetisi” di SMK Bina Insan Mandiri (BIM) Islamic School. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Merdeka Mind Fest 2026 yang berlangsung pada 18–21 Agustus 2026 dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dari berbagai jurusan di SMK Bina Insan Mandiri mendapatkan wawasan mengenai perkembangan AI serta pemanfaatannya dalam proses produksi konten. Kehadiran para praktisi, akademisi, dan pakar industri menjadi bagian dari upaya sekolah memperkenalkan perspektif dunia kerja kepada peserta didik.

IMDE turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengintegrasikan pendidikan dengan ekosistem industri kreatif digital. Selain Teguh Setiawan, beberapa dosen IMDE yang turut memberikan materi adalah Erwin Mulyadi, S.Si., M.I.Kom., Hanindito Rahmanda, S.Sn., M.M., dan Dias Suminta Suria Putra, M.I.Kom.

AI Bukan Pengganti Kreativitas

Dalam pemaparannya, Teguh menekankan bahwa kehadiran AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi kreativitas manusia. Sebaliknya, AI dapat menjadi alat kolaborasi yang membantu kreator mempercepat proses kerja sekaligus membuka lebih banyak kemungkinan kreatif.

“AI bukan untuk menggantikan kreativitas manusia, tetapi menjadi kolaborator yang membantu kreator bekerja lebih cepat dan mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan. Di era AI, yang semakin penting bukan hanya kemampuan membuat, tetapi kemampuan mengarahkan, mengkurasi, dan menentukan mana yang layak menjadi sebuah karya.”

Menurutnya, kemampuan manusia tetap memiliki posisi penting dalam proses kreatif. AI dapat mengolah data dalam jumlah besar, tetapi tidak memiliki pengalaman hidup, emosi, maupun selera seperti manusia.

“AI memiliki akses terhadap miliaran data, tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup, emosi, dan selera. Di tengah produksi konten yang semakin otomatis, sentuhan manusia, empati, dan kemampuan melakukan kurasi justru menjadi pembeda utama sebuah karya.”

Foto bersama tim dosen IMDE dan tim guru SMK Bina Insan Mandiri (BIM) Islamic School.

Pentingnya Kemampuan Menyusun Prompt

Salah satu keterampilan yang diperkenalkan dalam workshop adalah prompt engineering. Menurut Teguh, kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan memberikan perintah sederhana. Kreator perlu mampu menyampaikan ide, konteks, tujuan, serta visi kreatif secara terstruktur.

“Prompt engineering bukan sekadar bagaimana kita mengetik perintah kepada AI. Ini adalah kemampuan menerjemahkan ide, konteks, tujuan, dan visi kreatif menjadi instruksi yang dapat dipahami mesin sehingga menghasilkan output yang lebih presisi.”

Materi tersebut menjadi relevan bagi siswa SMK yang akan memasuki dunia industri kreatif dan digital. Pemanfaatan AI dapat digunakan dalam berbagai tahapan produksi konten, mulai dari pengembangan ide, penyusunan naskah, pembuatan visual, hingga proses produksi dan penyuntingan.

Namun, Teguh menekankan bahwa teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai pengarah dan pengambil keputusan kreatif.

Mendorong Link and Match Pendidikan dengan Industri

Kepala SMK Bina Insan Mandiri, Nerviadi Gurnadi Lucky, S.Ds., mengatakan perkembangan industri digital menuntut generasi muda untuk terus beradaptasi. Menurutnya, dunia pendidikan perlu membangun keterhubungan yang lebih kuat dengan industri agar lulusan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjadi wirausaha.

“Perkembangan dunia di era industri digital menuntut generasi muda untuk terus adaptif terhadap perkembangan teknologi. SMK BIM Islamic School menyadari bahwa dunia pendidikan harus terus melakukan link and match dengan dunia industri, agar generasi muda tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menjadi wirausaha yang sukses.”

Ia juga mengapresiasi antusiasme siswa selama rangkaian kegiatan berlangsung. Interaksi langsung dengan para mentor dari dunia pendidikan dan industri dinilai memberikan pengalaman baru bagi para peserta didik.

“Salah satu momen yang berkesan hari ini adalah sesi berbagi dari Bapak Teguh Setiawan dari IMDE, yang membawakan materi tentang Generative AI. Sebagai praktisi industri di dunia pendidikan, beliau membuka wawasan generasi muda kita tentang bagaimana menggunakan AI secara bijak dalam praktik dunia kerja,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi kreator yang memiliki visi, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Bagi generasi muda yang akan memasuki industri kreatif, pesan utama workshop tersebut sederhana: AI bukan kompetitor kreativitas manusia, melainkan alat kolaborasi. Manusia tetap menjadi pengarah, kurator, sekaligus pemilik visi di balik sebuah karya. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan