Membangun Otot di Negeri Kertas

23 hours ago 15

Oleh: Suryansyah

Indonesia punya segalanya: regulasi, anggaran, hingga panggung internasional. Tapi satu hal yang terus luput—sistem yang benar-benar bekerja.

Mengapa prestasi olahraga kita selalu datang sesaat, lalu menghilang? Mengapa kita begitu kuat merencanakan, tetapi lemah dalam menjalankan?

Buku Membangun Otot di Negeri Kertas karya Sadik Algadri memberi jawaban. Buku ini sebuah refleksi kritis tentang perjalanan olahraga Indonesia— tentang bagaimana bangsa yang memiliki begitu banyak talenta, semangat, dan tradisi olahraga justru masih harus berjuang membangun fondasi yang kokoh.

‘Negeri Kertas’ menjadi metafora bagi sebuah ekosistem olahraga yang sering kali kuat dalam dokumen, rencana, slogan, dan seremoni, tetapi belum selalu kuat dalam praktik.

Di tengah tumpukan regulasi, program, target prestasi, dan janji pembinaan, buku ini mengajak pembaca melihat persoalan olahraga dari sisi yang lebih mendasar: bagaimana membangun otot olahraga Indonesia agar benar-benar kuat, berkelanjutan, dan berorientasi pada prestasi.

Sadik Algadri tidak hanya berbicara tentang atlet dan pertandingan. Mantan pejudo nasional ini membawa pembaca menelusuri berbagai persoalan yang membentuk wajah olahraga nasional: pembinaan usia dini, kualitas pelatih, kompetisi, tata kelola organisasi, kesejahteraan atlet, sport science, pendidikan, hingga hubungan antara olahraga, industri, media, dan pembangunan bangsa.

Dari tata kelola yang tumpang tindih, politik anggaran yang berorientasi event, hingga kebijakan besar yang tersendat di implementasi—semuanya diurai dengan tajam, jujur, dan berbasis data.

Dalam bukunya, Sadik Algadri yang berkecimpung di dunia olahraga sejak tahun 1970-an juga membongkar satu realitas yang jarang diakui: olahraga Indonesia terlalu lama dibangun di atas ‘kertas’, bukan ‘otot’.

Rocky Gerung, akademikus, filsuf dan intelektual publik Indonesia dalam kata pengantarnya mengatakan buku Membangun Otot di Negeri Kertas ini lahir bukan dari menara gading akademis yang steril, melainkan dari kedalaman kegelisahan eksistensial dan ontologis terhadap paradoks olahraga Indonesia.

Kita mendapati diri kita berada dalam lanskap kebangsaan yang sangat gemar menuliskan kemajuan di atas dokumen formal, namun gagap dalam mengejawantahkannya di realitas lapangan.

Indonesia menumpuk regulasi, menerbitkan undang-undang, serta memproduksi jargon-jargon teknokratis yang megah—mulai dari sport science, long-term athlete development, hingga produk mutakhir berupa Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

Secara normatif-konseptual, semua dokumen tersebut tampak paripurna. Namun, dalam realitasnya, kita terjebak dalam apa yang dalam literatur kebijakan publik disebut sebagai policy formalism: sebuah kondisi patologis di mana negara merasa telah menyelesaikan kewajibannya hanya dengan menyelesaikan teks kebijakan, sementara membiarkan fondasi operasionalnya rapuh dan terfragmentasi.

Bukan Sekadar Kritik
Sadik menawarkan arah baru: bagaimana membangun sistem olahraga yang berkelanjutan, berbasis meritokrasi, dan mampu melahirkan prestasi secara konsisten—sekaligus menjadi bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas 2045.

Ini bukan hanya buku tentang olahraga. Ini tentang bagaimana sebuah bangsa belajar bekerja, berbenah, dan akhirnya benar-benar menang.

Olahraga kerap dipahami secara sederhana sebagai arena kompetisi—tentang menang dan kalah, tentang medali dan peringkat. Sesungguhnya, olahraga merupakan cermin dari cara sebuah bangsa mengelola dirinya sendiri.

Sadik merefleksikan bagaimana kebijakan dirancang, institusi bekerja, sumber daya dialokasikan, dan pada akhirnya, bagaimana manusia dibentuk.

Menurut Sadik, buku Membangun Otot di Negeri Kertas, hadir dalam kegelisahan: mengapa sebuah negara yang memiliki begitu banyak kebijakan, regulasi, dan program di bidang olahraga, belum sepenuhnya mampu membangun sistem prestasi yang berkelanjutan?

Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan teknis, tetapi pertanyaan struktural yang menyentuh inti dari tata kelola dan politik pembangunan itu sendiri.

Melalui analisis, buku Membangun Otot di Negeri Kertas ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat olahraga dari perspektif yang lebih luas— sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Buku ini tidak hanya membedah persoalan fragmentasi kebijakan, lemahnya tata kelola, dan ilusi dalam politik anggaran, tetapi juga menawarkan arah pembaruan yang konkret dan sistemik.

Dengan menghubungkan isu olahraga dengan konsep human capital, governance, dan ekonomi pembangunan, buku ini diharapkan memberikan kontribusi penting dalam memperkaya diskursus kebijakan publik di Indonesia.

Di tengah kompleksitas persoalan, penulis tetap menghadirkan optimisme yang rasional—bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat dirancang dan dijalankan.

Pendekatan ini menjadikan buku ini tidak hanya relevan bagi akademisi. Tapi juga bagi pembuat kebijakan, praktisi olahraga, dan siapa pun yang peduli terhadap masa depan olahraga Indonesia.

Buku ini mengingatkan kita bahwa membangun olahraga bukanlah pekerjaan jangka pendek. Ia adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, disiplin, dan keberanian untuk berubah.

Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, olahraga memiliki potensi untuk menjadi salah satu pilar utama—bukan hanya dalam mencetak prestasi, tetapi dalam membentuk manusia Indonesia yang unggul.

Membangun Otot di Negeri Kertas adalah ajakan untuk mengubah olahraga Indonesia dari sekadar “negeri yang pandai menulis rencana” menjadi bangsa yang mampu membangun kekuatan, menciptakan prestasi, dan memenangkan masa depan.

Suryansyah, Wartawan Olahraga Nasional

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan